08 February 2015

Review: Mommy (2014)


"I had to piss so I tied a knot in my dick!"

Usianya baru 25 tahun namun Xavier Dolan telah menghasilkan lima buah film sejak debut sebagai sutradara tahun 2009 yang lalu. So what? Pria asal Kanada ini selalu berhasil menghasilkan karya terbaru yang uniknya bukan hanya sekedar menunjukkan bahwa ia bisa membuat lebih banyak film tapi juga sebagai bukti bahwa ia terus berkembang sebagai seorang pendongeng dan sutradara. Setiap film terbarunya selalu berhasil melampaui kualitas film terdahulunya, dan film terbarunya ini kembali berhasil menjadi film Xavier Dolan favorit saya. Mommy is just another step forward work from Xavier Dolan to make himself called prodigy one day. Urgh Oscars, what a miss!! 

Steve Després (Antoine-Olivier Pilon) adalah remaja yang bermasalah buat dirinya sendiri, bermasalah buat lingkungan sekitarnya, dan yang paling utama menjadi sumber masalah bagi ibunya Diane (Anne Dorval). Nakal dan pemberontak, bahkan ia tidak pernah takut menggunakan kekerasan yang berbahaya, hal yang membuat Diane bahkan dengan santai mengatakan “masalah baru apa lagi?” ketika ia datang menjemput Steve yang kala itu menjadi dalang dari sebuah insiden kebakaran. Dengan status single parent menyebabkan Diane kewalahan membimbing Steve sehingga ia mendapat bantuan dari Kyla (Suzanne Clément), tetangga mereka yang ternyata tidak hanya sebatas seorang wanita misterius. 



Seperti yang saya katakan di awal tadi Mommy adalah seperti batu terbaru yang digunakan oleh Xavier Dolan untuk berpijak dalam upaya menyeberangi sebuah sungai untuk kemudian memperluas statusnya tidak hanya sekedar permata bagi Kanada namun juga permata perfilman bagi dunia. Mungkin perjalanan yang harus ia tempuh masih panjang, apalagi jika kamu pernah menyaksikan film-film karya Xavier Dolan sebelumnya kamu pasti akan mengerti bahwa mereka bukan hidangan yang menarik untuk semua orang, tapi percayalah jika kamu menilai I Killed My Mother, Heartbeats, Laurence Anyways, hingga Tom at the Farm sebagai hidangan yang nikmat maka Mommy akan memberikan sebuah treat yang mengasyikkan buat kamu. Tidak ada yang baru memang dari cara bermain yang digunakan Dolan disini, tapi ia tetap mampu mengolah formula miliknya itu untuk menjadi penggambaran yang segar dan memikat.



Presentasinya masih sama, penuh energi dan lebih menaruh fokus pada karakter meskipun ia tetap mempersenjatainya dengan cerita yang mumpuni. Penggunaan ratio 1:1 juga kembali hadir disini, ia manfaatkan dengan sangat cantik untuk membawa kamu merasakan tekanan dari pertarungan karakter yang berisikan teriakan, merasakan kesesakan yang mereka alami namun setelah itu berpindah ke ratio lebih besar ketika hal-hal yang lebih ringan hadir. Tidak hanya itu, penggunaan musik juga berhasil mencuri perhatian, penempatannya sangat cantik sehingga sering membantu beberapa momen untuk mencengkeram penonton, dan itu juga ditemani dengan visual yang terbilang manis, mampu memancarkan energi dari cerita dan juga karakter untuk membuat kamu merasakan ketegangan yang mereka tampilkan.


Ketegangan? Iya, saya juga terkejut pada hal tersebut karena saya datang dengan ekspektasi ini akan menjadi sebuah drama terbaru dari Dolan yang kembali membawa penontonnya merasakan kehancuran untuk kemudian memperoleh sebuah makna yang tajam di akhir cerita. Hal itu kembali hadir di film ini tapi dengan ketegangan yang menarik meskipun ia juga punya momen lucu yang tidak kalah menariknya. Campur aduk, dan itu dijalankan oleh Dolan dengan liar dan penuh percaya diri, ia menjadikan cerita dan karakter terus bergerak maju tanpa rasa takut tapi disisi lain mereka perlahan terus menarik perhatian penonton, membuat kamu merasa berada disamping mereka berkat cerita yang menyentuh hati dan juga emosi. Saya suka dengan pukulan emosi yang dihasilkan Dolan disini, bukan hanya terasa menghancurkan tapi juga menakutkan, ia punya kekuatan untuk mampu mengguncang penontonnya dengan cara yang sederhana.



Ya, mengguncang, Mommy ibarat sebuah rollercoaster yang membawa penontonnya naik dan turun. Memang ada rasa kaku di beberapa bagian tapi itu tidak mengganggu berkat fokus cerita sendiri begitu kuat, Dolan menampilkan eksekusi yang tanpa rasa takut untuk kembali mengeksplorasi isu andalannya seperti seksualitas hingga harga diri. Kamu terjebak bersamanya, kamu akan berduka bersamanya, kamu akan bergembira bersamanya, hal sederhana seperti itu terbangun dalam narasi yang meskipun tidak stabil tapi tetap mampu menyajikan momen-momen yang kuat, jadi ada sesuatu yang menarik dari karakter-karakter “cacat” itu untuk diamati, dari rasa frustasi mereka, dari interaksi mereka, mungkin akan terkesan gimmick tapi dengan hasil yang memikat kesan tersebut tidak menjadi masalah yang berarti. Dan semua hal menarik tersebut dilengkapi dengan penampilan yang kompeten dari para pemerannya, Suzanne Clément dan Antoine-Olivier Pilon mampu menjadikan karakter mereka menarik untuk di ikuti, sedangkan Anne Dorval sukses memberikan penampilan yang memukau sebagai wanita yang terus berjuang dengan kegigihan tingkat tinggi.



Menjadi semakin menarik untuk terus mengikuti kiprah Xavier Dolan sebagai sutradara, karena lewat Mommy ia kembali membuktikan bagaimana gaya sederhana dan efektif yang ia miliki kembali mampu menyuguhkan sebuah observasi yang menarik tentang cinta, sebuah konflik yang kuat ditengah namun diwarnai dengan hal-hal liar dan menyenangkan di sekitarnya, membawa penontonnya dekat dengan cerita dan karakter untuk kemudian memberikan mereka sebuah punch yang kuat di akhir cerita. Mommy tidak hanya sebatas ibu dan anak saling berteriak, ini adalah sebuah film tentang cinta yang bermain-main dengan nakal diantara suka dan duka. Emotionally powerful. Segmented. 







2 comments :

  1. review FSOG please....
    kak riringina ini nontonnya dimana ya....cepet amat hehehe:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kate. :)
      Film-film yang “cepat” itu saya tonton di NY, dan mungkin kamu akan menemukan film-film “cepat” lainnya hingga akhir tahun ini.
      FSoG hari minggu ya, sudah di jadwal. :)

      Delete