19 October 2014

Movie Review: Bleak Night (2011)


“A guilty conscience needs no accuser.”

Apakah anda pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini didalam benak anda, apakah teman-teman yang saya miliki merupakan teman sesungguhnya? Apakah mereka menganggap saya ini sebagai sosok yang berarti atau hanya boneka yang ia gunakan agar hidupnya lebih berwarna? Apakah mereka akan ada ketika saya berada dalam kondisi terburuk? Pertanyaan-pertanyaan tadi sederhana, namun jika anda cermati lebih serius punya kompleksitas yang kuat. Film ini memberikan petualangan terkait hal-hal tadi, Bleak Night, mature exploration about the true meaning of friendship.

Ayah Ki-tae (Jo Sung-ha) seperti belum merasa tenang jika ia tidak mendapatkan kejelasan tentang kematian anaknya, Ki-tae (Lee Je-hoon), hal yang membuat ia memutuskan untuk kembali ke sekolah Ki-tae untuk mencoba menemukan jawaban. Clue yang ia miliki adalah sebuah foto milik Ki-tae, yang kemudian mempertemukannya dengan dua sahabat Ki-tae, Baek Hee-joon (Park Jung-min), atau yang lebih dikenal dengan panggilan Becky, dan Dong-yoon (Seo Jun-young). Becky mengatakan ia tidak tahu tentang peristiwa tersebut karena telah pindah sebelum Ki-tae bunuh diri, sedangkan Dong-yoon sulit untuk ditemui. 

Terasa aneh memang, karena semuanya seolah menghindar untuk memberikan penjelasan terkait kematian Ki-tae, dan semakin mengherankan karena faktanya mereka merupakan sahabat terdekat Ki-tae. Namun makna sahabat disini ternyata tidak sama dengan apa yang ada dipikiran Ayah Ki-tae, karena ketika anaknya masih hidup dulu Ki-tae merupakan pria berengsek yang penuh karisma, tidak takut memberikan perintah meskipun fisiknya lebih kecil, pria yang masih merasa bingung dengan kehidupannya, yang juga memberikan rasa bingung kepada Becky dan Dong-yoon, apakah mereka benar-benar sahabat Ki-tae?


Pondasi dasarnya adalah persahabatan, dan itu akan berhasil anda tangkap dari sejak scene pertama, namun ternyata film debut dari Yoon Sung-hyun yang juga merupakan proyek kelulusannya ini punya petualangan yang jauh lebih kompleks, pembahasan terkait isu persahabatan yang ternyata tidak memiliki isi yang sama sederhananya dengan cara ia dikemas. Ya, ini kompleks, terlebih dengan pengunaan teknik bercerita non-linear yang berani itu akan menjadikan kisah yang sesungguhnya merupakan sebuah studi karakter pada sosok Ki-tae ini akan membuat pikiran penontonnya berputar-putar mencoba merajut jalinan cerita yang ia lemparkan itu, dan itu semakin kacau karena ia punya plot yang sederhana, konflik yang tidak sederhana, dan karakter dalam kuantitas tidak begitu besar namun masing-masing dibekali dengan kualitas yang mampu membuat kita tertarik padanya.

Nah, keputusan yang berani itu justru yang menjadikan film dengan gambar-gambar sendu menghanyutkan ini terasa powerfull dalam menghantarkan pesan yang ia bawa, karena kita sejak awal hanya dibekali sebuah fakta tentang kematian salah satu karakter utamanya. Ya, ini menarik karena kita tidak pernah diberitahu apa yang terjadi dibalik tragedi tersebut, hal yang mungkin akan menjadi sumber masalah bagi beberapa penonton yang sejak awal mungkin telah terpaku pada satu misi, ikut menemukan pelaku kematian tersebut. Bukan, hal tersebut tidak pernah menjadi atensi dari Yoon Sung-hyun, itu hanya pijakan bagi kita dan cerita untuk berdiri, itu menjadi sebuah alat yang membuka jalan bagi kita untuk menelisik arti dari persahabatan itu tadi, dan jika anda mampu untuk lepas dari jebakan tadi, dan kemudian menaruh atensi anda pada perkembangan karakter, ini akan mengejutkan anda.


Ya, mengejutkan, ketika ia selesai bahkan saya merasa jengkel mengapa saya baru menyaksikannya sekarang. Bleak Night adalah drama yang cerdas, drama yang berhasil mengangkat konflik tentang sikap tidak dewasa dengan cara yang dewasa, dari aksi bullying yang disajikan tanpa kesan menghakimi, menerapkan konsep kilas balik untuk menemani tiga karakter bermain-main dengan pertanyaan yang ada di benak mereka, pertanyaan terkait siapa diri mereka? Apa itu persahabatan bagi mereka? Uniknya berbagai pertanyaan tadi tidak pernah mendominasi terlalu lama, mereka saling bergantian memberikan nafas suram terkait pergaulan itu, mereka mengembangkan isu persahabatan tapi disisi lain kronologi pada kematian itu juga ikut jalan, maju dan mundurnya cerita tidak pernah terasa bentrok, ada saja kemudahan yang ia berikan bagi penonton untuk memisahkan dan merangkai mereka.

Yang mungkin menjadi perhatian utama adalah ini bukan sebuah misteri kematian yang harus anda pecahkan, bukan film yang mengajak anda mencari jawaban pada konflik utama, melainkan membentuk pemahaman terkait isu yang ia bawa. Ya, itu motif yang dibawa Bleak Night, dan itu tunggal, karena anda berpotensi untuk berputar-putar pada masalah bunuh diri dengan ketegangan berlapis seingga anda akan mulai bertanya-tanya siapa pelaku dan korban sesungguhnya? Ki-tae mungkin menjadi korban, tapi bukankah segala perilaku berengsek yang ia tampilkan itu tidak menutup kemungkinan ia menjadi “pelaku” dalam masalah ini? Nah, itu di kemas oleh Yoon Sung-hyun dalam komposisi yang manis, fokus yang kuat, dan dengan sokongan sinematografi dan serta musik yang seolah tidak mau mencuri atensi penontonnya hadir pula karakterisasi yang halus dan intim.


Bukan berarti ia tidak punya kekurangan, beberapa permainan camera sesekali terasa mengganggu meskipun ketika sedang statis mereka yang menciptakan keintiman dalam cerita, dan liku-liku cerita dengan menggunakan past dan present itu juga kemungkinan akan terasa mengganggu bagi beberapa penonton, mungkin pula terasa kaku, tapi jika dibandingkan dengan sensasi yang diberikan gesekan antar karakter yang tenang namun tajam itu mereka tidak punya power yang kuat untuk merusak. Hal tersebut bahkan tidak akan hadir di pikiran anda jika penampilan tiga karakter telah mengikat atensi anda, Seo Jun-Young dan Park Jung-Min tampil baik dalam menarik maju pandangan anda terkait persahabatan, dan bintang utamanya, Lee Je-Hoon, berhasil menjadikan Ki-tae sebagai karakter yang menarik untuk ditelisik, kesan ambigu dan psikopat yang manis, kuat di kala mengancam, namun kelembutannya juga menakutkan.


Overall, Bleak Night (Pasuggun) adalah film yang memuaskan. Meskipun beberapa dari mereka punya wajah kurang klik dengan highschool, tapi Yoon Sung-hyun berhasil membentuk mereka menjadi remaja yang menarik untuk diamati. Ini merupakan film tentang persahabatan yang tajam, cerdas, dan dewasa, ia intens di cerita yang gelap dan terang, terampil dalam membentuk ketegangan, dan narasi berlapis dan non-linear itu terbangun dengan manis ketika menyampaikan misi yang ia bawa, misi untuk mengajak penonton lebih mendalami arti dari persahabatan, ketimbang mencari hasil dari pertanyaan terkait kematian yang lemparkan di awal. Impressive debut film. 







3 comments :

  1. Hai kak, kebetulan lagi blogwalking dan nemu postan ini seneng banget! Since aku bukan kritikus film yang baik aku gabisa komen apa-apa mengenai film ini /lol/ tapi ada yang mengganjal di bleak night yaitu endingnya menurutku:/ (maklum lemot) bisa jelasin kak? Penasaran banget soalnyaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga buka kritikus kok. :)
      Supaya mudah gimana kalau "yang mengganjal" itu dibikin pertanyaan aja, jadi saya tinggal jawab?
      Kalau ending kuncinya itu di bola baseball, di scene itu Dong-yoon sendirian, sedangkan Ki-tae hanya imajinasi Dong-yoon.

      Delete
  2. Ini film pertama yang aku tonton yang secara sinematografis / teknik narasi rumit sampe bikin ga ngerti jalan ceritanya dan ga dapet tentang perkembangan karakter yang mengejutkan seperti kata admin rory. Tapi dengan baca review ini saya sedikit ter-highlight tentang apa yang membuat Ki Tae bunuh diri, masuk akal jika Ki Tae adalah korban dan juga pelaku dari aksinya sendiri.

    ReplyDelete