14 February 2014

Movie Review: Killers (2014)


Hati-hati dengan orang psycho. Kalimat tersebut mungkin sudah pernah anda dengar, karena dibalik tampilan charming, intelek, dan  penuh perhatian yang mereka miliki kaum psycho sesungguhnya lebih berbahaya dari orang gila yang juga mengalami gangguan kejiwaan, karena mereka masih berada di alam sadar. Namun tahukah anda bahwa semua orang punya potensi menjadi psikopat didalam diri mereka yang jika tidak mampu melakukan kontrol dengan baik siap melakukan kudeta. Killers, good enough psychological thriller.

Selalu ada dampak negatif dari kemudahan yang diberikan oleh internet sekarang ini, salah satunya adalah siapa saja dapat menunjukkan hasil karya yang ia miliki kepada jutaan orang diberbagai belahan dunia hanya dengan melakukan klik pada beberapa tombol. Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura) adalah salah satunya, seorang pria dengan tampilan eksekutif yang tinggal di Tokyo, Jepang. Yang menjadi masalah adalah apa yang ia sebarkan merupakan sesuatu yang sangat tidak lazim, video-video yang ia hasilkan dari dokumentasi aksi membunuh yang baginya seperti telah menjadi hobby, kegiatan tempat ia bersenang-senang dan memperoleh kepuasan.

Video tersebut pada akhirnya berhasil menjangkau sosok normal yang belum terjerumus dalam hal yang sama. Pria itu adalah Bayu Aditya (Oka Antara), tinggal di Jakarta, seorang jurnalis yang sedang bertarung menghadapi berbagai tekanan berat. Dari ambisi terkait sebuah kasus yang melibatkan seorang politikus bernama Dharma (Ray Sahetapy), hingga gejolak dalam pernikahannya dengan Dina (Luna Maya), perlahan Bayu mulai bergelut dalam kondisi depresi dan kehilangan arah, namun celakanya justru terjebak dalam sebuah pemikiran pendek untuk berupaya keluar dari tekanan: melakukan apa yang Nomura Shuhei lakukan.


Sulit untuk menampik bahwa alasan utama mengapa Killers mendapatkan atensi yang begitu besar dari para penikmat film adalah keberadaan duet Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (atau yang lebih dikenal dengan The Mo Brothers) di kendali utama. Dua sahabat ini dengan sangat mudah mencuri perhatian pada debut mereka di Rumah Dara (Macabre) bahkan dengan menggunakan premis sederhana: menjebak karakter dalam sebuah rumah, escape attempt, kemudian berpadu bersama darah dan violence yang tampil lepas dan menyenangkan. Ya, hal terakhir tadi yang sepertinya menjadi identik dengan The Mo Brothers, bahkan masih terlihat di segmen Safe Haven pada V/H/S/2 ketika Timo berduet bersama Gareth Evans, konsep yang kuat, dibangun dengan kokoh, tanpa kehilangan unsur fun.

Tiga elemen tadi masih hadir di Killers. Bergeser dari horror-slasher menjadi psychological thriller, kita akan mendapatkan sebuah studi karakter yang lagi-lagi bermain dengan hal sederhana namun mampu tampil provokatif, sisi gelap dari semua manusia. Disini terlihat jelas bahwa The Mo Brothers sudah nyaman dengan konsep dan warna yang mereka miliki, serta mulai tampil berani ketika bergerak lebih jauh dan lebih dalam pada elemen cerita. Jepang dan Indonesia, ada dua arena yang dibangun Takuji Ushiyama dan Timo Tjahjanto untuk menjabarkan sebuah kisah self destruction, berisikan tahapan serta proses dari ketika kehidupan mulai sulit untuk lepas dari jalinan persahabatan bersama tekanan, hadir problem mental dan kejiwaan, hingga berakhir pada sebuah ledakan. Familiar.

Ya, familiar, itu pula mengapa sangat mudah memahami apa yang ingin disampaikan oleh The Mo Brothers, dari tag inside us lives a Killers, kemudian pengembangan cerita dan karakter yang sabar dan kuat di bagian awal, kita seperti ditarik masuk kemudian di kurung bersama aksi membunuh dalam cerita yang bergerak lambat. Tapi ada satu pertanyaan yang terus menghantui saya sepanjang film, mengapa harus dibagi menjadi dua cerita? Hal tersebut memang menciptakan banyak ruang eksplorasi, bahkan membuat ia tampak berani, namun dibalik itu ada sebuah resiko besar yang dapat dihasilkan dari blunder yang sangat kecil sekalipun, dan Killers mengalami itu, lapisan demi lapisan yang sudah disusun dengan rapi itu pada akhirnya tidak menyatu dengan baik.


Ketika ia masih berisikan materi-materi kecil, ini kuat dan sangat menarik, namun ketika ia mulai di rajut menjadi sebuah kesatuan besar, ini lemah. Pergantian tugas diantara kedua bagian tadi ikut membawa perubahan dinamika dan daya tarik dari cerita, tensi yang stabil diawal mulai naik dan turun dalam konteks negatif, hal yang seharusnya tidak boleh hadir dalam proses observasi karakter seperti ini. Dampak terbagi duanya cerita juga perlahan tampak dengan tidak digalinya banyak konflik kecil diawal yang sesungguhnya menjadi daya tarik terbesar film ini. Hal tersebut belum menghitung betapa sulitnya cerita ditarik menuju garis akhir oleh The Mo Brothers, seperti terjebak dalam sebuah perputaran cerita yang berjuang mencari jalan keluar dalam gerak lambat, berpotensi menjemukan.

Elemen utama yang sesungguhnya menjadi faktor kunci dari film dengan tema seperti ini sebenarnya hanya satu, menjebak dan mempermainkan emosi penonton. Itu tidak berhasil dilakukan oleh Killers, bahkan momen tabu dari sebuah studi karakter juga harus hadir: okay, enough, just give me a conclusion. Sangat disayangkan ketika sebuah minus minor pada kontrol di paruh kedua membuyarkan potensi besar yang telah ia bangun, karena dibalik alur cerita mondar-mandir dalam gerak lambat Kilers sesungguhnya telah berhasil menjebak atensi serta membangun rasa penasaran penonton, bahkan cukup sulit untuk mengalihkan pandangan dari scene yang beberapa diantaranya mampu tampil mengasyikkan dengan cinematography yang mengesankan (walaupun beberapa tampak murahan), terlebih ketika mereka disokong oleh score yang sukses membangun aura gelap cerita.

Aura gelap juga hadir di divisi akting, terutama pada Kazuki Kitamura lewat ekspresi wajah dan sorotan mata seorang pria sakit jiwa. Meskipun tidak begitu kokoh namun saya suka tampilan berkelas yang The Mo Brothers hadirkan pada cerita di bagian Jepang, hal yang sebaliknya tidak hadir di bagian Indonesia. Di sisi dialog ia memang kurang, namun dari segi performa Oka Antara berada sedikit di atas Kitamura, walaupun harus sedikit miris ketika upaya ia untuk membangun sebuah polemik berat dari karakternya kerap kali justru tidak dihargai oleh beberapa penonton yang menganggap cairan yang keluar ketika Bayu bergelut dengan masalah sebagai sebuah lelucon yang lucu dan menghibur. Funny? Why?


Overall, Killers adalah film yang cukup memuaskan. Ini adalah sebuah bukti bahwa The Mo Brothers terus bertumbuh, mereka berani untuk keluar dari sesuatu yang telah terbukti berhasil memberikan kesuksesan dengan bermain di warna baru, tampil lebih matang tanpa harus mengorbankan identitas yang telah tercipta. Tidak ada yang megah dari aksi membunuh (especially if you like Dexter and that kind of tv-series), standard namun tetap menyenangkan. Tapi ini adalah sebuah studi karakter, permainan emosi yang mumpuni menjadi hal mutlak, dan Killers tidak punya itu.



0 komentar :

Post a Comment