15 December 2013

Movie Review: Blackfish (2013)


"Never capture what you can't control."

Dahulu disaat masih kecil saat berkunjung ke SeaWorld ada dua hal yang saya lakukan, memegang tangan orangtua saya, dan terpesona. Ya, tidak dapat dipungkiri hiburan dan hewan yang taman bermain bawah laut itu tawarkan dapat dengan mudah membuat anda terpesona. Hal tersebut yang akan selalu anda temukan dari tampilan luar yang ia sajikan, namun Blackfish akan membawa anda pada hal yang eksis dibalik itu, isu yang juga dapat dengan mudah membuat anda mempertimbangkan untuk tersenyum lagi ketika kembali menyaksikan apa yang sebelumnya berhasil membuat anda terpesona.

Pada tahun 2010, berlokasi di SeaWorld Florida, seorang pelatih paus yang sangat berpengalaman bernama Dawn Brancheau tewas secara tragis. Penyebab kematian dari Brancheau sangat jelas, akibat diserang oleh seekor Orcinus Orcas bernama Tilikum. Namun yang menjadikan kasus ini terasa aneh adalah pernyataan dari SeaWorld yang menyebutkan bahwa insiden tersebut murni disebabkan karena kesalahan pelatih yang lalai, sehingga menyebabkan ponytail miliknya ditarik oleh Tilikum. 

Celakanya Tilikum sudah ibarat seperti sahabat yang sangat dekat dengan Dawn Brancheau yang melatihnya. Bahkan dari sana mulai terkuak bahwa insiden itu bukan merupakan aksi pertama Tilikum yang menelan korban jiwa. Yang menjadi pertanyaan mengapa hewan yang disaat tampil didepan pengunjung tampak bersahabat dan sangat jinak itu berubah menjadi makhluk buas? Apa pula alasan yang menjadikan ia masih dapat bertahan di industri tersebut, karena dua puluh tahun yang lalu ia pernah melakukan hal serupa.   


Menggunakan gugatan OSHA (Occupational Safety and Health Administration) terhadap SeaWorld sebagai pondasi utama, Blackfish akan membawa anda kedalam sebuah kisah horror yang mengejutkan, menyaksikan sisi kelam dibalik semua tawa bahagia penuh pesona yang selama ini selalu identik dengan arena bermain tersebut. Jika anda bertanya pada google, Orcas sesungguhnya tidak sama menakutkannya dengan julukan yang ia miliki sebagai paus pembunuh. Orcas adalah hewan cerdas yang kompleks dan sensitif, mereka bisa bosan, bingung, marah, kesepian, hingga mengalami gangguan psikis yang berhasil dibuktikan film ini dengan penggambaran efektif. Fakta tersebut yang kemudian menimbulkan pertanyaan, hal apa yang bisa merubah hewan jinak ini menjadi seekor predator buas yang mematikan?

Pertanyaan sederhana itu sebenarnya juga punya jawaban yang sederhana, mereka berubah karena manusia “mengganggu” habitat mereka. Blackfish terus berputar di isu tersebut, bergerak mondar-mandir dengan menampilkan rangkaian wawancara konvensional bersama pelatih paus, aktivis, ilmuwan, hingga mantan pemburu paus, kemudian dikombinasi bersama banyak video mengejutkan dalam rentang tiga dekade, baik itu dari penangkaran, latihan, hingga serangan Orcas saat pertunjukkan. Ya, tidak ada yang baru dari teknik yang ia tampilkan, namun apa yang membuat Blackfish berhasil meraih sukses karena ia fokus sejak awal hingga akhir pada misi utama, yang bahkan menjadikan Pixar melakukan revisi pada ending dari Finding Dory.

Blackfish sangat fokus. Struktur cerita yang diciptakan oleh Gabriela Cowperthwaite bersama Eli Despres dan Tim Zimmermann seperti sebuah tali yang mengikat penontonnya sejak awal hingga akhir. Bukan hanya mampu membuat anda marah, semakin peduli terhadap binatang, mulai mempertimbangkan segala aksi hiburan yang menggunakan binatang sebagai objek utama, ia juga sukses menguak sebuah rahasia hitam yang menelan banyak nyawa dari seekor paus seharga £ 12.000 yang dipertahankan hanya karena sperma yang ia miliki berpotensi besar menghasilkan banyak uang. Aksi eksploitasi ini yang kemudian menimbulkan banyak pertanyaan baru, salah satunya siapa penjahat sebenarnya?

Ya, ini bukan hanya sebuah sorotan mengenai seekor paus dan tragedi yang ia timbulkan. Gabriela Cowperthwaite tidak pernah absen untuk membawa kembali peran manusia kedalam masalah yang ia usung, menaruh keselamatan manusia lebih rendah dibandingkan segala kepentingan bisnis. Lewat animasi sederhana hal tersebut terus hidup, ada sebuah sistem yang juga tidak kalah menarik dimana Cowperthwaite seperti menarik dan mengulur emosi penonton dalam dinamika cerita yang naik dan turun, transisi antara bahagia dan duka. Narasi terus mengalir halus, editing yang mumpuni, secara mengejutkan tema tragis yang sempit itu berubah menjadi hiburan emosional yang kompleks.

Memang tidak sama menakutkannya dengan The Cove yang bermain pada kasus perdagangan lumba-lumba di Jepang, namun sebagai sebuah media yang digunakan untuk mencoba membuat penontonnya sadar, dan mereka yang sudah sadar semakin terprovokasi, ini sangat berhasil. Aksi investigasi ini sangat berhasil menjadi sebuah suara perubahan yang menuntut kebebasan hidup bagi hewan, bukan berarti menentang sistem pemeliharaan namun lebih kepada cara mereka diperlakukan dengan hormat. Ya, karena Blackfish menjadi bukti bagaimana hewan ramah berubah menjadi buas, memberontak bahkan kepada pelatih yang sudah berpengalaman sekalipun seperti Ken Peters dan tentu saja Dawn Brancheau.


Overall, Blackfish adalah film yang memuaskan. Walaupun terkesan sedikit dipaksa, kurang seimbang karena bergerak satu arah tanpa memberi ksesempatan sisi pembanding untuk bersuara, Blackfish tetap berhasil menjadi sebuah dokumenter yang mempesona. Ia stabil sejak awal hingga akhir, dari daya tarik, fokus, hingga power dari provokasi. Memang tidak bisa melakukan generalisasi bahwa semua SeaWorld melakukan hal yang sama, namun at least ia berhasil menyampaikan misi utama terkait dengan perlakuan pada paus (dan mungkin saja hewan peliharaan lainnya), bahkan terus bermain dipikiran penonton setelah ia menghilang. He’s killing because he’s frustrated. 



0 komentar :

Post a Comment