12 November 2013

Movie Review: Ain't Them Bodies Saints (2013)


Kalimat dengan inti seperti ini pasti sudah sering anda temukan pada banyak film, “tunggu aku, aku pasti kembali untukmu.” Kalimat yang sangat singkat itu justru punya power yang begitu besar untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya kekuatan yang dimiliki oleh cinta, berawal dari kisah yang manis, kemudian hadir masalah, berkorban, dan akhirnya berjuang untuk kembali ke titik awal. Ain't Them Bodies Saints coba mengolah sistem tersebut, lewat kisah kejahatan klise penuh gambar cantik.

Ruth Guthrie (Rooney Mara) dan Bob Muldoon (Casey Affleck), anda dapat melihat gelora cinta dua insan muda dalam diri kisah asmara mereka, bermain dalam petualangan cinta yang menyenangkan, bertengkar namun kemudian saling rujuk kembali dengan cara yang manis, dan saling mendukung satu sama lain. Disini celakanya, Ruth seperti buta akan cinta, dan kemudian mendukung pekerjaan Bob sebagai penjahat. Tindakan itu yang akhirnya membawa mereka kedalam bencana, dan perpisahan.   

Dalam sebuah aksi baku tembak dengan polisi, Bob berkata kepada Ruth, “I promise I'll come get you, just wait for me.” Ia mendekam di penjara, sedangkan Ruth, dibawah pengawasan Skerritt (Keith Carradine), masih tinggal di kota tersebut dan membesarkan anak mereka, Sylvie, anak perempuan yang belum pernah melihat sosok Ayahnya secara langsung. Hal tersebut yang menjadikan kehadiran polisi bernama Patrick Wheeler (Ben Foster) terasa berbeda bagi Ruth, ia menunggu dalam ketidakpastian, walaupun ia tahu Bob pasti berjuang untuk mewujudkan janjinya.


Konsep yang dimiliki oleh Ain't Them Bodies Saints sangat sederhana, ingin membawa penontonnya kedalam kisah romansa lewat perpaduan perjuangan dan kesetiaan. David Lowery berhasil memberikan sebuah impresi yang sangat memikat di bagian awal, dengan singkat dan padat sukses membuat saya jatuh cinta pada dua karakter utama, dan tentu saja menggantungkan harapan bahwa Ain't Them Bodies Saints tidak akan menjadi sebuah hiburan visual semata (visualnya indah, itu pasti). Ya, harapan itu salah, perlahan film ini berubah menjadi sebuah dramatisasi dari kombinasi narasi dan puisi.

Inti utama dari film ini adalah kesabaran, memasukkan dua sosok yang  di awal saling mencintai kedalam konflik yang memisahkan mereka, menyelimuti mereka bersama rasa rindu yang kemudian bergesekan dengan rasa percaya dan prioritas. Sayangnya konflik emosi yang sederhana itu dibentuk terlalu santai, terlalu hati-hati malah. Tidak masalah dengan kualitas dari ancaman, begitupula sedikit nafas Terrence Malick didalamnya, namun kekuatan dari perjuangan karakter utama untuk bertemu dan menunggu terasa terlalu stabil, padahal ia sudah menaruh standar yang menarik pada bagian pembuka.

Plot yang sejak awal sudah terlalu ringan itu tidak dijaga agar terus tampil intens, menjadikan banyak momen tragis dari sisi hitam dan putih cerita tidak berada dalam tempo yang menarik serta kurang mampu menghadirkan sensasi yang memikat. Cukup sulit pula untuk menaruh simpati pada karakter, David Lowery ingin penontonnya agar dapat merasakan tragisnya cinta namun memilih tidak membuat anda agar merasa dekat dengan karakter. Yap, Ain't Them Bodies Saints sesungguhnya punya sedikit sentuhan warna studi karakter, tapi sayangnya sebagian besar cerita Lowery kurang menaruh prioritas utama pada kedalaman karakter.


Hal utama yang menyebabkan film ini tidak mampu mengemas semua potensi yang ia miliki adalah keputusan dari David Lowery yang menggerakkan cerita seperti dalam tempo satu ketukan lebih lambat (bahkan beberapa bagian terasa terlalu lambat), bergerak sedikit mondar-mandir, tampak sebagai upaya untuk memberi ruang bermain bagi kombinasi cinta, frustasi, ragu, dan perjuangan agar mampu menemani perasaan penontonnya. Di beberapa bagian keputusan itu memang berhasil, namun itu minor, Ain't Them Bodies Saints lebih banyak menciptakan situasi yang dengan jelas hanya memberikan momen menunggu bagi penontonnya.

Yap, menunggu. Tema dari cerita romansa berbalut crime klise itu berubah menjadi proses mengamati yang kerap kali terasa kurang mengalir. Ain't Them Bodies Saints perlahan seperti lupa dengan tujuan utamanya, terlena dan terbuai, mulai asyik bermain dengan gambar yang mungkin berpotensi untuk menghibur bagi beberapa penonton. Perlahan ia berubah layaknya sebuah kereta api uap yang hanya membawa persediaan kayu untuk lima stasiun, padahal rute yang akan ia tempuh adalah tujuh stasiun dalam tempo tujuh jam, ia sadar akan hal itu di stasiun kedua, dan mulai bergerak lambat sehingga tidak mampu meraih sasaran yang tepat.

Divisi akting merupakan sisi terkuat film ini, secara individual, karena chemistry antar karakter terasa lemah. Rooney Mara sukses menghadirkan rasa sakit dalam diam, frustasi yang kemudian mempengaruhi opsi yang ia miliki. Casey Affleck juga berhasil menghadirkan perjuangan dan kegigihan dari cinta kepada penontonnya, sedangkan Ben Foster secara mengejutkan selalu mencuri perhatian lewat perawakan lembut yang menghadirkan kebimbangan. Performa mereka berada dalam level memuaskan, hal tersebut mengingat karakter yang mereka punya sesungguhnya tidak begitu menarik.


Overall, Ain't Them Bodies Saints adalah film yang cukup memuaskan. Ini seperti menyaksikan sebuah premis sederhana dan potensial yang harus terjebak dalam pergerakan plot cerita kurang dinamis dan terlalu stabil. Tidak hancur memang, bahkan sama sekali tidak membosankan, namun Ain't Them Bodies Saints dapat menjadi proses pengamatan karakter yang lebih mengasyikkan andai saja David Lowery sedikit menaikkan tempo dan memperpadat tensi cerita, karena konflik yang ia lemparkan sudah sangat sederhana. Performa memikat dari divisi akting menjadi penyelamat. 



0 komentar :

Post a Comment