09 October 2013

Movie Review: Cold Eyes/ Stakeout (2013)


Menghadirkan sebuah aksi kriminal, polisi dan penjahat yang dipisahkan dengan frontal tanpa misteri, kemudian dibalut bersama aksi catch and run, klasik, bahkan mungkin akan ada beberapa dari anda yang mungkin berani menyebutnya sebagai sesuatu yang basi. Ya, bahan dasar dari semua nasi goreng itu sama, nasi, dan kenikmatan yang ia berikan tergantung pada cara sang koki mengolah nasi tersebut. Cold Eyes/ Stakeout (Gam-si-ja-deul), film Korea, action dan crime, adalah kemasan nasi goreng yang standard.

Berawal dari sebuah kereta subway yang penuh sesak, berdiri seorang wanita muda bernama Ha Yoon-ju (Han Hyo-joo), dengan mata dan jari yang tak berhenti bergerak sembari terus mengawasi orang-orang disekitarnya dengan ketelitian tingkat tinggi dan penuh rasa curiga. Ha Yoon-ju menerima sebuah tugas, membuntuti seorang pria tua bernama Hwang Sang-jun (Seol Kyung-gu) sebagai test masuk unit pengawasan kepolisian (tidak mengganggu, tidak perlu spoiler). Lulusan dengan nilai terbaik itupun bergabung dengan tim, dan seperti sebuah hadiah tidak lama kemudian muncul sebuah kasus kejahatan.

Sebuah bank telah dirampok oleh dua orang bertopeng, yang anehnya tidak menjadikan tumpukan uang di hadapan mereka sebagai target utama. Ya, hal yang sulit dimengerti itu sama dengan tingkat kesulitan dari otak yang menjadi dalang dibalik aksi itu untuk ditemukan, James (Jung Woo-sung), sosok yang menerima tugas dari mentornya (Kim Byung-ok) untuk melakukan tindakan kriminal lainnya. Hal tersebut memaksa kepolisian menerjunkan tim pengintaian ke lokasi yang juga dilengkapi seorang detektif bernama Squirrel (Lee Junho), dibawah komando Lee (Jin Kyung).



Oke, penilaian kali ini akan bersifat tunggal secara total karena saya belum pernah menyaksikan Eye in the Sky, film Hongkong yang menjadi sumber cerita Cold Eyes. Jujur saja dengan mengesampingkan Han Hyo-joo, yang tidak dapat dipungkiri menjadi alasan utama saya menyaksikan film ini, Cold Eyes berhasil masuk kedalam list film di tahun ini yang berhasil membuat saya menaikkan ekspektasi awal. Sederhana sebenarnya, hal tersebut terjadi karena Cold Eyes mampu menghadirkan sebuah pembuka yang dibalik aksi tricky yang klasik itu seperti mampu menjejakkan kakinya dengan kokoh sembari berkata, “bersiaplah, anda akan mendapatkan tontonan yang memikat, dan intens.”

Sayangnya secara mengejutkan Cho Ui-seok dan Kim Byung-seo ternyata menaruh fokus mereka dalam jumlah yang sangat besar pada tindakan prosedural polisi dalam menangkap musuhnya. Apakah itu menghancurkan? Sebenarnya tidak. Bukan hanya permainan kucing dan tikus, aksi penyadapan, namun juga hadir beberapa metode dasar dari sebuah aksi pengintaian dikemas dalam tampilan yang menarik, dari permainan visual dalam bentuk positioning, penggunaan peta dengan pion catur, hingga hal klasik seperti kamera CCTV lalu lintas dan radio. Tapi, itu sedikit terlalu dominan dan menutup elemen lain untuk berkontribusi lebih besar.

Catch and run, penyamaran, kamera berputar, dikemas dalam pergerakan cerita yang cepat dan lugas, Cho Ui-seok dan Kim Byung-seo seperti lupa bahwa dibalik kompleksitas yang mereka bangun itu terdapat premis yang sederhana jika tidak ingin disebut standard, punya alur bahkan ending yang sudah predictable. Hal tersebut memang mereka coba tutup dengan memberikan sebuah aksi spying, tapi mereka seperti lupa bahwa untuk tipe film seperti ini salah satu hal penting yang harus dimiliki adalah kemampuan tokoh dalam cerita untuk meyakinkan bahwa ia penting, dan masalah yang sedang ia hadapi adalah sesuatu yang tidak kalah pentingnya.



Yap, benar, sulit untuk menaruh rasa peduli pada karakter, yang baik maupun yang jahat, walaupun terus dijejali aksi-aksi yang disambung dengan rapi. Sedikit nilai positif memang ketika Cho Ui-seok dan Kim Byung-seo memilih untuk membatasi kedalaman cerita, sehingga tidak ada drama over mellow yang mengganggu. Namun hal tesebut yang awalnya menjadikan anda merasa yakin bahwa ia punya sesuatu mengejutkan yang lebih solid ketimbang menambahkan bumbu pemanis tadi ternyata salah. Dinamika cerita yang terlalu stabil itu mulai bergerak mondar-mandir, yang celakanya tidak mampu mempertahankan nafas bahaya untuk dapat membuat anda merasa cemas sembari menunggu.

Awal yang menarik, perlahan Cold Eyes berubah menjadi proses pengamatan aksi prosedurial polisi yang sedikit di dramatisir. Ia kurang berhasil menampilkan pergerakan cerita yang mampu menjadikan anda sebagai penonton merasakan naik dan turunnya tensi dan tempo cerita yang asyik. Ini kelewat stabil, bahkan rasa waspada terhadap karakter jika mereka mungkin tertangkap saja tidak begitu kuat, karena itu tadi, anda sudah merasa nyaman berada dalam proses pengamatan. Ya, tidak ada materi special yang mampu menjadikan Cold Eyes  berbeda dengan film di genre serupa, bahkan dengan lelucon yang terasa biasa walaupun ditempatkan dengan cermat.

Tidak ada yang dominan di divisi akting. Mereka tidak buruk, tapi seperti yang disebutkan sebelumnya mereka juga tidak spesial. Han Hyo-joo berhasil membentuk karakter menjadi sosok yang benar-benar tampak pintar, mencuri atensi utama, namun kurang berhasil meyakinkan anda bahwa karakternya hidup dan bernyawa. Sama halnya dengan Jung Woo-sung yang tampil rapi, namun kontribusinya kurang digali lebih dalam padahal punya potensi untuk menebar ancaman yang jauh lebih besar.


Overall, Cold Eyes/ Stakeout (Gam-si-ja-deul) adalah film yang cukup memuaskan. Cold Eyes jelas merupakan sebuah film yang menarik, bahkan tidak memberikan rasa bosan kepada penontonnya, hal yang penting. Yang ia tidak mampu lakukan hanya satu, mempertahankan agar excitement dari cerita tetap hidup, dan stabil, sama stabilnya dengan tensi dan tempo yang ia berikan. Dengan pesan yang terlalu kecil untuk mencuri atensi, Cold Eyes lebih terasa seperti sebuah proses yang mencoba memberi tahu atau mungkin mempertajam lagi teknik-teknik yang dapat digunakan ketika anda mencoba melakukan pengintaian, tidak lebih dari itu.



2 comments :