06 September 2013

Movie Review: Planes (2013)


"Ladies and gentleplane, can we have your attention please?"

Adalah sebuah hal yang tidak dapat terbantahkan bahwa dibalik tujuannya untuk menghibur lewat gambar-gambar ilusi ada tujuan lain yang diemban oleh sebuah film animasi, “menjual” karakter. Namun hal tersebut seharusnya hanya menjadi sesuatu yang minor dibalik fokus mereka pada tujuan utama tadi, yang ternyata tidak dilakukan oleh Disney pada spin-off dari Cars ini. Planes, datar, tidak inspiratif, membosankan.  

Dusty Crophopper (Dane Cook), punya mimpi yang sangat jauh lebih besar jika dibandingkan hanya bekerja di ladang jagung, namun justru menjadi bahan ejekan bosnya, Leadbottom (Cedric the Entertainer), serta sahabatnya Dottie (Teri Hatcher), dan hanya didukung oleh Chug (Brad Garrett). Ya, bagaimana mungkin ia bermimpi untuk ikut serta dalam balapan pesawat lintas dunia, sedangkan untuk terbang jauh lebih tinggi saja ia tidak berani. Namun kehadiran Skipper Riley (Stacy Keach), pesawat veteran yang pernah bertugas di medan perang, mampu merubah apa yang tadinya mereka anggap impossible itu menjadi nyata.

Berkat pelatihan dari Skipper, Dusty berhasil masuk kedalam balapan lintas dunia, bertemu teman baru yang sekaligus menjadi kompetitornya, pesawat Meksiko bertopeng bernama El Chupacabra (Carlos Alazraqui), pembalap asal Prancis-Kanada bernama Rochelle (Julia Louis-Dreyfus), pesawat British bernama Bulldog (John Cleese), hingga Ishani (Priyanka Chopra) asal India. Persaingan yang sehat diantara mereka bukan menjadi sumber beban baru bagi Dusty, melainkan Ripslinger (Roger Craig Smith), kandidat favorit, juara bertahan tiga tahun terakhir.


Jika harus digambarkan dalam satu kalimat, film ini adalah Cars 3 dalam sampul yang berbeda. Hal yang wajar tentunya ketika kita mendapati “warna” utama Cars didalamnya, namun yang menjadi persoalan kemiripan itu tidak hanya sebatas tampilan luar dan pondasi utama, namun ikut menjalar hingga elemen-elemen terkecil. Sepertinya Jeffrey M. Howard tidak berniat untuk melakukan sedikit modifikasi pada Planes, yang pada akhirnya menjadikan petualangan berdurasi 92 menit ini seperti menyaksikan karakter Cars yang telah dihancurkan lalu kemudian materinya dipakai kembali untuk membangun pesawat.

Yap, dari formula yang mengambil sama persis seperti yang pernah dilakukan pada Cars, sebuah karakter yang punya mimpi namun menemui hambatan, perjuangan untuk menggapai mimpi tersebut dengan sebuah pelatihan yang meniru interaksi Lightning McQueen - Doc Hudson, ditemani teman-teman berubah dari pesimis menjadi optimis. Dari cerita, lelucon, hingga pergerakan cerita yang dimiliki Planes, persis seperti Cars. Hasilnya ini akan membosankan bagi mereka yang telah menganggap apa yang ditawarkan Cars sebagai sesuatu yang tidak menarik lagi, saat ini. Mengherankan, bagaimana bisa Klay Hall kembali mencoba formula yang sudah dia ketahui punya peluang besar untuk tidak bekerja lagi, pemalas atau tidak punya ide lain?

Dari segi kualitas visual dan 3D Planes memang tidak begitu mengecewakan, namun sebaliknya tidak pada cara ia bercerita. Mungkin dengan status direct-to-video yang ia miliki sebelumnya menjadikan Planes menaruh sasaran tembak yang sedikit lebih rendah dibandingkan film animasi pada umumnya, dalam konteks usia. Tapi apakah film ini memang punya power jika dirilis sesuai dengan status awalnya itu? Beruntungnya saya berada dibelakang pasangan suami istri yang membawa dua orang anaknya mereka dikisaran usia maksimal 8 tahun, dan saya mendapati suasana yang didominasi kondisi hening dari bangku depan tersebut sepanjang film. Begitupula dengan lima orang bocah sekolah dasar tepat empat baris di depan saya, tidak ada tawa skala besar.

Sample memang sempit, tapi sudah cukup untuk menjadikan saya paham bahwa bukan saya yang salah, melainkan film ini yang salah. Memang masih ada beberapa sensasi menarik ketika balapan yang dipenuhi akselerasi melintasi bangunan dan alam dalam kecepatan tinggi, dan juga beberapa pengisi suara yang tidak bekerja sangat buruk, namun selebihnya Planes adalah sebuah dongeng yang hambar dan datar. Tidak ada pengembangan karakter yang seharusnya mampu menarik simpati, kemudian menjadikan penonton jatuh cinta pada mereka, yang pada akhirnya juga akan memuluskan tujuan utamanya dalam hal penjualan mainan. Yang ada justru petualangan dangkal, berisikan editing yang mengganggu.


Overall, Planes adalah film yang kurang memuaskan. Planes, Cars dalam bentuk pesawat. Formula yang sama dari skala besar hingga yang terkecil, tanpa kehadiran materi baru yang segar, tidak berkembang dalam hal kecerdasan, mengubur ide yang sebenarnya tidak begitu buruk. Jangankan untuk menginspirasi penonton muda yang kerap identik sebagai salah satu tujuan utama kehadiran film animasi, untuk menghibur mereka saja film ini punya potensi yang sangat besar untuk gagal, minim enjoyment. Bersiaplah menyambut kehadiran versi pesawat dari Cars 2, Planes: Fire & Rescue, tahun depan. Setelah itu apa lagi? Boats?



0 komentar :

Post a Comment