11 September 2013

Movie Review: Kick-Ass 2 (2013)

 

"The real world had real consequences."

Cara paling tepat untuk menikmati hidup adalah tentu saja dengan melakukan apa yang anda senangi, apa yang mampu menjadikan anda akan melakukannya dengan senang hati, menikmati tiap detik yang berlalu, tanpa ditemani beban yang memberatkan serta mengganggu. Ini yang menjadi fokus utama Kick-Ass 2, sekuel dari Kick-Ass yang sempat menjadi bagian dari kejutan tiga tahun lalu, kumpulan manusia biasa yang berkostum aneh, mampu menghadirkan kekacauan menyenangkan. Sayang, di edisi kedua ini ia hanya punya unsur pertama, karena kekacauan itu tidak lagi menyenangkan. (Warning: review contains strong language)

David Lizewski (Aaron Taylor-Johnson) telah memutuskan pensiun menjadi Kick-Ass, meskipun dibalik itu ia telah menjadi sosok yang menginspirasi bahwa semua orang dapat menjadi pahlawan. Namun ternyata kehidupan normal tidak membawa kebahagiaan baginya, dan mulai memutuskan untuk kembali menjadi Kick-Ass, dimulai menjalani pelatihan bersama Mindy Macready (Chloƫ Grace Moretz). Sayangnya Mindy juga mengalami masalah, menjadi kaum buangan di sekolahnya, dan yang paling berat menghadapi larangan dari Marcus (Morris Chestnut), detektif yang kini menjadi guardian-nya, dan memutuskan untuk berhenti menjadi Hit-Girl.

Tidak ingin bekerja sendiri, Kick-Ass memutuskan untuk mencari teman baru, dan terdampar di “Justice Forever”, kelompok super yang dipimpin oleh Colonel Stars and Stripes (Jim Carrey), dan beranggotakan Battle Guy (Clark Duke), Dr Gravity, Insect Man, Night-Bitch (Lindy Booth), dan sepasang orang tua yang kehilangan anaknya. Namun keputusan tersebut ternyata bersamaan dengan kembalinya Chris D'Amico (Christopher Mintz-Plasse), menghapus Red Mist dan mengganti namanya menjadi The Motherfucker, dengan bantuan Javier (John Leguizamo) membentuk tim dengan tujuan utama untuk membalaskan dendamnya pada Kick-Ass.


Secara garis besar, Kick-Ass 2 melakukan kebalikan dari apa yang pernah diciptakan Kick-Ass tiga tahun lalu. Yap, kala itu sebagai sosok yang tidak membaca komiknya saya berpikir, “film apa ini, manusia biasa berkostum, dan mencoba menjadi pahlawan, konyol,” tapi pada akhirnya menjadi kagum pada cara Matthew Vaughn menciptakan kekacauan yang mampu mengekpresikan fantasi manusia biasa terhadap sosok superhero. Dia sederhana (yang awalnya mungkin banyak menjadi faktor penyebab orang beranggapan dia akan menjadi bodoh), bebas dan ringan, tidak menjadikan petualangan itu tampak berat apalagi memberatkan penonton. Nah, itu yang tidak dimiliki oleh Kick-Ass 2.

Kick-Ass 2 memang punya tujuan yang sedikit berbeda dimana ia mencoba menggali lebih dalam sosok Hit-Girl, mengembalikan Kick-Ass kedalam arena, serta aksi balas dendam berbalut misi mewujudkan ambisi dari Red Mist. Kick-Ass 2 sebenarnya juga tahu kemana ia akan berjalan (yang bahkan terlalu mudah untuk diprediksi oleh penonton), namun celakanya ia di dominasi rasa bingung, bagaimana cara berjalan menuju garis finish dan menyampaikan misi mereka lewat cara yang menyenangkan, oh ya, kekacauan yang menyenangkan. Tidak ada unsur kejutan, template dan formula yang digunakan oleh Jeff Wadlow ternyata masih sama, yang justru menjadi dinding penghambat potensi film ini.

Kesalahan Jeff Wadlow terletak pada script, dan elemen utama yang menjadi jualan mereka, komedi. Cara yang dipakai Jeff Wadlow pada script tidak sesuai dengan materi yang ingin ia sampaikan, sedikit serius dan berat. Akhirnya ide itu tidak dapat diterjemahkan dengan baik, pergerakan cerita tidak mulus, ingin menyampaikan pesan yang ia bawa namun tidak mampu menjaga agar alur cerita tetap mengalir. Yap, tidak masalah memang dalam hal cerita, namun sangat merusak dalam hal tensi, dinamika, dan daya tarik. Sulit untuk terus tertarik dan menaruh atensi pada kisah predictable yang berjalan naik dan turun dan sering kehilangan (bahkan menghancurkannya sendiri) momentum yang tidak ia rawat dengan baik, apalagi humor mereka yang kali ini terlalu standard.


Oke, ini film superhero, tapi tidak tampak kekuatan cerita pada elemen tersebut. Sebut saja aksi Kick-Ass dan kelompok barunya yang seperti tidak punya rencana dan bergerak random, kemudian The Motherfucker yang tidak memberikan tekanan sebagai musuh (seperti menunggu giliran untuk tampil), dan Mindy yang berputar-putar dalam konflik personal yang justru kurang digali lebih dalam. Kick-Ass 2 seperti permainan tiga kelompok penuh karakter yang sibuk dengan urusan mereka, kemudian bertemu untuk saling hantam, aksi yang bahkan tidak lagi menjadikan penduduk sekitar tertarik dengan mereka.

Ya, menjadi sebuah film superhero dia gagal, begitupula dengan menciptakan petualangan berisikan kekacauan yang menyenangkan (even Mother Russia madness didn't works for me), point penting di film pertama yang menjadikan mereka dapat eksis sampai sekarang ini. Kick-Ass 2 lebih sering terlalu berupaya membangun kekuatan cerita, yang semakin kacau karena fokus yang tidak lagi pada Kick-Ass (krisis identitas, mungkin judul yang lebih tepat adalah Hit-Girl and The Kick Ass), serta keabsenan mereka dalam upaya menjadikan cerita agar sama kuatnya dalam hal daya tarik. Alur datar, random, tempel sana-sini, dapat dirangkai dalam satu kalimat sederhana, kekacauan dalam konteks negatif.

Divisi akting juga tidak ada perkembangan yang positif. Chloƫ Grace Moretz masih di standard yang ia punya, Hit-Girl masih dibuat menarik olehnya (aksi adu cepat dengan Marcus di iringi lagu I Hate Myself for Loving You itu, menarik, begitupula dengan Sick Stick), tapi dia pula yang menjadi sumber masalah. Moretz menjadikan Hit-Girl terlalu kuat, baik dari karakter dan konflik, sehingga menjadikan ia yang justru tampak sebagai tokoh utama, menenggelamkan Aaron Taylor-Johnson yang harus rela berbagi konflik sama besar bersama Moretz. Kekurangan utama Kick-Ass 2 adalah sosok yang mampu mencuri perhatian, dimana Jim Carrey yang diharapkan mampu menjalankan tugas itu ternyata gagal, sedangkan Christopher Mintz-Plasse seperti tidak pernah mencoba masuk kedalam tugas tersebut.


Overall, Kick-Ass 2 adalah film yang kurang memuaskan. Film ini kehilangan power di beberapa elemen yang menjadikannya menarik tiga tahun lalu. Dalam bentuk tim pahlawan, Kick-Ass 2 mampu menjadikan anda melihat warna superhero, persahabatan, akibat dari blunder pada kebebasan yang dimiliki, dan keberanian dalam mengambil keputusan, namun hanya sebatas itu tanpa coba digali lebih dalam, apalagi ia menjadikan identitas Hit-Girl dan Kick-Ass menjadi sama kuat, dan itu mengganggu. Ini tidak membosankan, namun ini juga jauh dari standard menyenangkan, kurang memorable, cukup bodoh bahkan bagi mereka yang sejak awal sudah siap menerima tontonan yang bodoh. 



0 komentar :

Post a Comment