04 August 2013

Movie Review: The Smurfs 2 (2013)


"It doesn't matter where you came from. What matters is who you choose to be."

Jika ada pertanyaan film rilisan tahun 2013 mana yang punya trailer paling datar, garing, dan unimpressive, salah satu kandidat terkuatnya adalah The Smurfs 2. Kesempatan singkat itu bukannya digunakan menjadi media untuk menunjukkan potensi dari kualitas yang mereka miliki, trailer The Smurfs 2 justru menjadi sebuah parody show-off yang mencoba memaksa penontonnya untuk tertarik. Hal tersebut juga terjadi ketika ia telah melakukan ekspansi menjadi paket yang lebih besar, a deeply disappointing experiment.

Semua berawal dari Smurfette (Katy Perry) yang memperoleh mimpi dimana ia mengkhianati teman-teman Smurfs, dan mulai muncul rasa bimbang dalam pikiran Smurfette tentang asal-usul dirinya, terlebih dia adalah satu-satunya perempuan di desa Smurfs. Tidak menganggap serius mimpi tersebut, semua berubah ketika ia mendapati bahwa tidak ada satupun dari para Smurf yang ingat hari ulang tahunnya. Celakanya hal tersebut bersamaan dengan Gargamel (Hank Azaria) yang mulai menjalankan misinya, demi mempertahankan kekuatan sihir dan menjaga popularitas yang telah ia peroleh.

Gargamel butuh sari smurfs, dan mencoba memanfaatkan dua smurfs ciptaannya yang ia anggap sebagai produk gagal, Hackus (J. B. Smoove) dan Vexy (Christina Ricci), sebagai jalan untuk menculik Smurfette, dan mendapatkan formula yang dia butuhkan. Peristiwa tersebut memaksa Papa Smurf (Jonathan Winters) untuk kembali ke dunia nyata, membawa serta pasukannya, Clumsy (Anton Yelchin), Grouchy (George Lopez), dan Vanity (John Oliver), berkelana menyusuri kota Paris untuk menyelamatkan Smurfette, dan mungkin menyelamatkan dunia. 


The Smurfs 2 sebenarnya adalah film yang sejak awal sudah sadar bahwa materi yang ia miliki tidak punya kekuatan yang cukup mumpuni untuk meloncat lebih tinggi, namun celakanya tidak mampu (atau mungkin tidak mau) menghadirkan elemen lain yang setidaknya dapat menjadi penyeimbang kekacauan yang telah ia punya sedari pondasi utama. Pencarian jati diri yang dibalut dengan penggambaran tentang hubungan anak dengan ayahnya menjadikan The Smurfs 2 tidak punya banyak ruang untuk bersenang-senang. The Smurfs 2 seperti terjebak pada konsep yang ia ciptakan sendiri, bagaimana cara melakukan kombinasi dari unsur drama sentimental yang secara mengejutkan mampu menjadi fokus utama para penonton, bersama dengan jualan utama mereka, sebuah petualangan sederhana yang menyenangkan.

Punya plot yang terlalu tipis, dangkal, The Smurfs 2 justru memberikan porsi yang sama besar pada dua tema utama yang ia miliki, yang alih-alih menjadi media untuk menebar pesan-pesan moral bagi penonton muda, justru lebih tampak sebagai hal yang disengaja untuk menutupi kreatifitas mereka yang sudah stuck (Breakfast at Tiffany? Flat). The Smurfs 2 bahkan mayoritas di isi dengan sebuah penggambaran yang menunjukkan rasa bingung yang mereka miliki pada cara selanjutnya untuk menjalankan cerita. Memanjangkan kisah sempit dengan materi manipulatif bernafaskan stockholm syndrome, memasukkan karakter-karakter lemah kedalam ruang cerita yang berbelit-belit, menghadirkan adegan catch-and-run yang tidak lucu, alur cerita yang tidak kuat dan terkesan tambal sulam, The Smurfs hanyalah sebuah paket show-off, a smurfventure to make people know a lot of random words which they can use in smurfversation.


Ini murni sebagai sebuah media yang digunakan oleh Sony untuk mencoba mewujudkan ambisi mereka dalam mengulang kesuksesan yang diperoleh oleh film pertama dari segi finansial, tanpa ambisi yang sama besarnya pada materi penyusun film itu sendiri, dengan Raja Gosnell  yang masih menggunakan formula yang sama, serta script pemalas hasil kerja sama J. David Stem, David N. Weiss, Jay Scherick, David Ronn, dan Karey Kirkpatrick yang tampak tidak mau mencoba memperbaiki kualitas yang ia miliki. Sebagai penonton anda mungkin akan bingung pada misi utama film ini dari segi cerita, pesan moral tidak tersampaikan dengan baik, petualangan menyenangkan justru berubah menjadi perjalanan penuh omong kosong.

Lantas apakah film ini punya nilai yang penting? Bagi penonton, The Smurfs 2 mungkin akan tampak sebagai sebuah sekuel yang tidak perlu, bahkan sebuah penurunan dari pendahulunya yang setidaknya masih punya sebuah warna manis dari hubungan Patrick (Neil Patrick Harris) dan Grace (Jayma Mays), yang kali digantikan oleh father-son relationships dengan kehadiran Victor (Brendan Gleeson). Namun bagi Sony Pictures Animation ini jelas merupakan sebuah film yang penting, menjadi sebuah tester apakah “boneka” miliknya ini masih punya kekuatan yang bisa diandalkan di masa depan, dari segi finansial. Semoga mereka telah mengerti, cara ini sudah basi, dan menghadirkan formula baru di film ketiganya.


Overall, The Smurfs 2 adalah film yang tidak memuaskan. Mungkin hanya dua hal yang menjadi sumber film ini memperoleh penonton, mereka yang benar-benar cinta dengan Smurfs, atau mereka yang masih menyimpan sebuah rasa penasaran. Kacau? Ya, ini kacau. Penting? Tidak, pesan utama lemah dan terkubur mati, serta tanpa hiburan menyenangkan yang sulit untuk anda dapati, apalagi untuk dinikmati. It’s just a smurfackage full of smurfonsense. Oh my, I’m smurfected with smurfhing.













0 komentar :

Post a Comment