22 August 2013

Movie Review: Elysium (2013)


Mempertahankan sesuatu selalu memerlukan upaya yang lebih besar dibandingkan ketika anda sedang berupaya meraihnya. Neill Blomkamp adalah sebuah hits yang sangat besar di tahun 2009, meraih nominasi Oscar lewat sebuah film sci-fi indie, memberikan magic pada film debutnya yang seharga $30 juta untuk meraih keuntungan tujuh kali lipat. Menjadikannya memperoleh banyak atensi, dilain sisi District 9 ternyata juga memberikan beban bagi Blomkamp, hal utama yang sangat terlihat pada Elysium, sebuah sci-fi standard yang kurang dinamis.

Max Da Costa (Matt Damon), pria yang punya sejarah kelam, membuatnya selalu menjadi sasaran mencurigakan bagi robot penjaga di Los Angeles, yang telah kumuh pada tahun 2154. Max masih terus berjuang untuk memperoleh banyak uang untuk mewujudkan mimpinya kala kecil dahulu bersama Frey (Alice Braga), dapat menghuni Elysium, sebuah stasiun luar angkasa yang mengorbit di dekat bumi, tempat dimana tidak ada masalah, tanpa perang, tanpa kemiskinan, yang sakit dengan mudah disembuhkan. Celakanya Max hanya bekerja pekerja kelas bawah di perusahaan robot Armadyne, milik John Carlyle (William Fichtner).

Pekerjaan itu membawa masalah, yang memberi Max kesempatan singkat, dengan satu opsi terbaik, pergi menuju Elysium. Bersama Julio (Diego Luna) ia menemui seorang penyelundup yang mampu mengirimkan penumpang menggunakan pesawat menuju Elysium, Spider (Wagner Moura), dan bersedia memenuhi permintaan Spider. Celakanya, tanpa ia sadari Max justru harus terjebak dalam sebuah misi yang disusun oleh Jessica Delacourt (Jodie Foster), Menteri Pertahanan Elysium, yang dibalik keputusan anehnya terus memperkerjakan tentara bayaran bernama Kruger (Sharlto Copley) di bumi untuk mengeleminasi imigran illegal, ternyata punya sebuah rencana yang lebih besar.


Elysium sebenarnya dibuka dengan sangat baik, sebuah usaha penduduk bumi untuk menembus stasiun luar angkasa, berhasil menciptakan hitam dan putih, yang sayangnya justru menjadi bagian terbaik film ini, menurut saya. Selebihnya, Elysium terasa seperti pertunjukan visual, berisikan kawasan kumuh yang cantik, dan Elysium sendiri yang dikemas dalam wujud yang inovatif. Yang mengecewakan, sama halnya dengan banyak film dengan kualitas visual mumpuni, tampilan memikat itu adalah bagian lain sebagai upaya terselubung untuk menutup kelemahan cerita yang ia miliki, lubang mengganggu yang dimiliki Elysium bahkan sejak konsep yang sudah mencerminkan sebuah rasa bingung.

Scriptnya menarik, namun tidak cerdik. Cerita terus bergerak semakin luas, punya keterikatan yang rapi antara satu dengan lainnya (walaupun kerap menampilkan hal bodoh), namun celakanya tidak dibangun dengan dinamis. Sangat sulit untuk menemukan serta merasakan sebuah dinamika cerita yang menarik dari Elysium, mayoritas didominasi pergerakan alur cerita yang cenderung datar dan hambar. Ia sering kali terlena dengan materi yang ia miliki, sehingga kurang jeli dalam penempatan tiap konflik untuk menjaga keseluruhan cerita agar tetap menarik, terlebih dengan flashback yang kerap tidak begitu penting, juga pemotongan cerita yang dalam sekejap ikut mematikan proses pendalaman konflik.

Elysium juga terlihat terlalu berhati-hati, dan kurang berani dengan tampak memilih untuk bermain aman, kurang inovatif dalam konteks cerita, dan cenderung lebih tampak sebagai District 9 dalam versi yang lebih besar. Idenya memang lebih besar, sebuah penggambaran distopia di awal abad 22, menggunakan tema isu sosial antara kaum atas dan kaum bawah, apartheid yang kali ini diganti dengan imigrasi ilegal,  serta intrik permainan politik serta sedikit sentilan manis lewat konflik kesehatan dalam balutan tampilan visual yang masih memikat. Sayang, tuntutan yang sepertinya begitu besar menjadikan Blomkamp seperti berupaya begitu kuat untuk menjadikan Elysium tampak megah, banyak materi untuk menjadi besar, namun harus berakhir pada cerita yang justru tampak berbelit-belit.


Blomkamp terlihat sangat ambisius dengan ide yang ia miliki, menyatukan beberapa konflik yang ia punya kedalam cerita yang luas, namun celakanya justru menciptakan overload karena arena bermain yang ia punya tidak mencukupi untuk menampung dengan baik semua ide tersebut. Ini menjadi boomerang bagi Neill Blomkamp karena ia justru menjadikan film ini tidak punya jalur cerita yang kuat, di isi dengan beberapa konflik yang sanggup meraih atensi skala kecil sama besar dengan pergerakan cepat, semakin jauh berjalan semakin tampak sesak seperti menanggung beban yang berat, dan hasilnya perlahan mulai terlihat lelah dan menunjukkan grafik menurun, termasuk motivasi karakter utama

Ada dua kesalahan utama yang diciptakan Blomkamp pada film ini. Pertama, tidak punya tokoh protagonis yang menarik, punya power untuk mampu menjadi pusat cerita. Ketimbang menjadi sosok heroik dalam upaya menghancurkan dinding pembatas yang dipisahkan galaksi, Max justru lebih terlihat sebagai sosok lemah yang dipenuhi dengan masalah dan memori kelam. Begitupula dengan Delacourt yang fungsinya sendiri tidak punya impact yang berkualitas pada cerita. Kedua, ia terlalu luas dalam membangun cerita, menciptakan banyak bagian yang tidak diolah dengan baik.

Sisi menarik yang juga cukup mengejutkan dari Elysium adalah bintang utama dari divisi aktor. Walaupun statusnya hanya pemeran pendukung, Sharlto Copley justru berhasil menyingkirkan Matt Damon, akting yang meyakinkan sebagai penjahat bayaran setiap kali ia muncul di layar. Matt Damon sendiri kurang mampu menghidupkan karakternya, motivasi yang hambar, dengan pergerakan yang kerap kurang meyakinkan. Jodie Foster juga menjadi sumber kekecewaan, porsi yang minim menjadikan bagian overdo yang ia miliki tidak berhasil tertutupi.

Elysium mungkin adalah tempat dimana Blomkamp  seperti ingin mencoba warna baru pada filmnya, namun dengan formula yang sama. Jika District 9 terlihat lebih intim, Elysium justru lebih tampak seperti sebuah dongeng, District 9 adalah sempit namun fokus, sedangkan Elysium adalah kebalikannya, luas namun kurang fokus. Jangan tanyakan hasilnya, karena anda seharusnya sudah tahu dari penjelasan diatas, karena yang lebih penting adalah film ini menjadi wake up alarm bagi Blomkamp bahwa dengan script dan visual yang menarik saja tidak cukup tanpa sebuah inovasi yang sama menariknya, dan menjadikan Elysium akan terasa kurang memuaskan jika menilik standar yang telah ia ciptakan sebelumnya.


Overall, Elysium adalah film yang cukup memuaskan. Sebagai tester dari Neill Blomkamp apakah cara yang pernah memberikan ia kesuksesan besar masih bekerja atau tidak, atau sebagai bukti bahwa kreatifitas yang ia miliki telah mencapai puncaknya empat tahun lalu dan sulit untuk berkembang lebih jauh, pertanyaan utamanya adalah apa yang anda harapkan, District 9 versi besar, atau sebuah kemasan baru dari Blomkamp yang lebih segar.  Jika anda murni hanya mencari kepuasan utama pada unsur sci-fi yang ia miliki, film ini jelas akan memikat. Namun sebagai sebuah paket utuh, gabungan sci-fi dengan action, thriller, dan juga drama, Elysium punya potensi untuk mengecewakan, slightly boring. 



1 comment :

  1. iya bener tuh gan... ane juga ngerasa boring nontonnya

    ReplyDelete