04 April 2013

Movie Review: Stoker (2013)


Seseorang pernah berkata kepada saya, “selalu persiapkan dirimu dalam setiap detik yang kau lalui, karena kau tidak tahu apa yang mungkin terjadi padamu satu jam, satu menit, bahkan satu detik kemudian”. Well, sangat sangat benar. Jika anda ingin mencari pembuktian termudah, maka Stoker adalah pilihan yang sangat tepat, film berbahasa inggris pertama dari sutradara korea yang pernah menelurkan salah satu film asia terbaik yang pernah saya tonton, Oldboy.

Seorang wanita yang gemar menyendiri bernama India Stoker (Mia Wasikowska), harus menerima sebuah kenyataan pahit dalam bentuk sebuah ujian hidup yang cukup berat bagi wanita yang baru genap berusia 18 tahun. Sebuah kecelakaan mobil merenggut nyawa ayahnya, Richard (Dermot Mulroney), sosok yang seolah telah menjadi sahabat paling ia cintai dalam hidupnya. Seperti ciri khas dari seorang yang pendiam pada umumnya, India lebih memilih untuk memendam rasa sakit dan hancur ia miliki seorang diri, dan tidak peduli dengan Evelyn Stoker (Nicole Kidman), ibunya yang sedikit “terganggu”, yang bahkan tidak layak dijadikan tempat berbagi masalah.

Namun hadir Charles (Matius Goode), abang dari almarhum ayahnya, sosok paman yang jauh dari kesan kuno. Diluar dugaan Charles mengambil sebuah keputusan yang tidak biasa, jauh dari kegemarannya yang selama ini senang berkeliling dunia, yaitu untuk tinggal bersama India dan Evelyn, dengan maksud utama untuk menguatkan mereka akibat tragedi itu. Tapi ternyata tragedi tersebut punya dampak yang jauh lebih besar dari yang diduga, dimana India mulai kehilangan kontrol yang ia miliki terhadap pikirannya, mulai gemar berfantasi, hingga mulai tertarik pada pamannya sendiri, meskipun ia juga merasa curiga padanya.


Memang tidak salah jika sedikit mengikut sertakan Oldboy ketika sedang membahas film ini, karena dampak yang film tersebut berikan sungguh besar, seolah menjadi trademark dari Park Chan-wook, sehingga ketika film berbahasa inggris pertama Park Chan-wook muncul orang akan dengan mudahnya kembali mengangkat Oldboy kepermukaan, terlebih remake dari film tersebut akan rilis tahun ini. Namun itu hanya sebatas menyinggung dalam skala kecil, dan terasa tidak pantas untuk membandingkannya head-to-head dengan film ini. Ya, Park Chan-wook sendiri bahkan lebih senang untuk menciptakan hal yang baru, ketimbang terjebak dalam sejarah yang indah itu.

Stoker adalah sebuah film coming-of-age yang kembali dijadikan Park Chan-wook sebagai arena bermainnya namun dengan style yang masih begitu kental. Anda akan mendapatkan sebuah karya seni yang menyeramkan, menakutkan, namun anehnya justru memberikan banyak ruang bagi anda untuk santai tanpa merasa tegang. Itu semua berkat tampilan visual yang memikat, penuh nilai seni, dibantu score yang bagi saya cukup memiliki kontribusi dalam membangun cerita. Ya ya, tidak ada adegan nudity yang berlebihan, tidak ada paket berisi potongan tangan, tidak ada pula scene mengintip sang pengintip melalui sebuah cermin. Namun sangat sulit untuk melupakan style dari Park Chan-wook, terutama transisi antar scene yang mungkin akan terasa aneh bagi penonton yang belum terbiasa.

Well, jujur saja, kinerja Park Chan-wook yang menjadikan film ini hidup, apalagi jika anda setidaknya tahu bagaimana style yang ia miliki (saya masih ingat sekali scene dimana rambut perlahan mulai bergerak menjadi rerumputan di rawa, indah). Jika menilik dari segi script film ini, apa yang dihasilkan oleh Wentworth Miller sebenarnya tidak spesial. Untung saja premis yang ia miliki sangat sempit, tidak kompleks, sehingga kegagalan yang Miller hasilkan menjadi tidak begitu tampak, dari Charles yang langsung ditempatkan sejajar dengan India, hingga karakter Aunt Gwendolyn Stoker (Jacki Weaver) yang masuk dan hilang dari film tanpa point yang penting.


Stoker bukan film bagi semua orang, namun disitu letak kegembiraan yang saya rasakan, karena dengan begitu rasa puas yang anda rasakan akan begitu besar jika anda merupakan salah satu dari mereka yang menjadi sasaran dari film ini. Dampaknya, hasil akhir yang ia berikan sangat tergantung pada cara penonton menginterpretasikan dengan akal mereka cerita yang sempit serta tampilan visual yang film ini sajikan. Resiko lainnya, akan tercipta penilaian yang penuh warna karena reaksi tiap orang yang berbeda. Meskipun sulit, tidak salah untuk memilih film ini sebagai cup of tea anda, karena akibat pace yang lambat tidak ada ketegangan yang berlebihan. Dan jika anda mengerti apa maksud dan tujuan yang ingin disampaikan film ini, saya yakin semua materi yang ia berikan justru akan bertahan lama di ingatan anda.

Apakah film ini begitu menarik bagi saya? Ya, menarik. Selain nilai positif dari tampilan visual, cerita yang ia punya akan membawa anda merasa seperti berada di dua dunia yang juga akhirnya menjadi pertanyaan, apakah itu realita, atau hanya sebatas fantasi dari India. Tidak ada konflik supranatural, hanya sebuah permainan berisikan karakter dengan jiwa yang sudah rusak, dari seorang paman yang seolah punya aura gelap dibalik senyum dan tatapannya, hingga kemungkinan terjadinya incest. Terkesan biasa, namun hal tersebut justru lebih menakutkan bagi saya, yang pada saat itu langsung membayangkan bagaimana jika saya menjadi India, bagaimana jika anak saya kelak mengalami nasib seperti India, bahkan hingga apa jadinya jika saya memperoleh pasangan seperti India atau seperti Evelyn. Ini yang saya suka, Park Chan-wook sukses menjadikan saya ikut merasakan apa yang karakter alami, pelan namun mendalam.

Tidak banyak momen yang begitu memorable dari film ini, namun sepanjang proses yang ia ciptakan film ini sukses menghadirkan sebuah kasus yang pasti akan membuat anda sabar menanti. Unsur drama terasa pas, misteri yang ia miliki dibangun dengan rapi, thriller terasa kurang, namun kesan horror melekat dengan baik, terutama lewat adegan lampu yang bergoyang itu. Mia Wasikowska diluar dugaan mampu tampil memikat lewat peran dewasanya. Sosok polos yang kemudian mengalami kerusakan di jiwanya, itu berhasil diperankan dengan baik oleh Mia. Tidak hanya sebagai individu, namun juga sebagai sebuah tim. Kerenggangan hubungan ibu dan anak yang ia bangun dengan Nicole Kidman (yang juga bermain cukup baik) sangat jelas dan mudah ditangkap. Begitupula dengan suasana erotis yang ia berikan bersama Matthew Goode (sangat mampu menampilkan ancaman secara natural), memikat, terutama adegan “seks piano” yang aneh namun tajam tersebut.


Overall, Stoker adalah film yang memuaskan. Andai saja script yang ia miliki dapat tampil jauh lebih baik lagi, film ini akan mengisi daftar calon film terbaik versi saya untuk tahun ini. tidak hancur memang, dimana Stoker hidup berkat Park Chan-wook, karena cerita yang lemah itu berhasil memikat berkat cara penggambaran yang ia tampilkan, indah, namun tetap dengan “style” yang ia miliki. Ceritanya sempit, cenderung dangkal, namun sukses membangun sebuah arena bermain psikologis selama 99 menit yang menyenangkan, terlebih ia punya pesan utama yang kokoh dan sangat mengganggu. 




8 comments :

  1. Bro,kayaknya selera film kita mirip nih. Boleh tukeran link? Link lo udah gue pasang di blog gue. Link gue http://review-luthfi.blogspot.com/ . Thanks :)

    ReplyDelete
  2. @Luthfi Prasetya Putra: Tentu boleh. Jika perubahan tata letak berjalan, link-nya akan segera saya pasang. Thanks sudah berkunjung Luthfi. :)

    ReplyDelete
  3. Mau komen dikit aja, Charlie itu adenya Richard...bukan abangnya. Nice review, anyway.

    ReplyDelete
  4. Ini film keren, review nya gak mutu... Selera murahan

    ReplyDelete
  5. Pengen nanya, kenapa pas akhir film. India malah nembak si charles?

    ReplyDelete