19 April 2013

Movie Review: No (2012)

 

Believe has an ultimate power. Kalimat singkat tadi adalah rangkuman dari banyak quote panjang yang mungkin pernah anda dengar yang berintikan anda bisa melakukan apapun jika anda percaya, tidak ada yang mustahil jika anda percaya anda bisa, dan bla bla bla. No sukses meninggalkan penontonnya dengan sebuah semangat baru ketika ia perlahan menghilang dari hadapan mereka.

Augusto Pinochet, telah menjalankan tugasnya sebagai presiden Chile selama 15 tahun, harus menghadapi sebuah kondisi dimana kepemimpinannya mulai dipertanyakan karena sistem diktator yang ia terapkan, meskipun kala itu Chile berada dalam kondisi yang stabil. Tahun 1988, lahir sebuah referendum yang mencetuskan sebuah ide untuk mencoba memberikan kesempatan bagi rakyat chile untuk ikut berpartisipasi pada negara mereka dengan cara yang simple, Yes or No. Bagi mereka yang masih menginginkan rezim Pinochet untuk melanjutkan tampuk kepemimpinannya, maka mereka harus memilih Yes, sedangkan rakyat yang ingin sebuah pemilihan demokratis, maka pilihannya adalah No.

Dua kubu tadi diberikan waktu selama 27 hari untuk menarik sebanyak mungkin suara. Caranya, setiap malam masing-masing kubu mendapatkan kesempatan selama 15 menit di stasiun televisi nasional untuk menyampaikan iklan yang berisikan alasan mengapa gerakan yang mereka usung adalah pilihan yang terbaik. René Saavedra (Gael García Bernal), seorang pakar di sebuah perusahaan advertising, dengan langkah berani memilih untuk ikut bergabung bersama kelompok No, siap menjadi musuh baru dari boss perusahaannya yang bernama Luis Guzmán (Alfredo Castro), dan bersama José (Luis Gnecco), Fernando (Néstor Cantillana), dan anggota tim lainnya siap menjadi musuh dari pemerintahan yang sedang berkuasa.


Terlalu mudah untuk memprediksi bagaimana film ini akan berakhir, dan saya juga merasa paragraf awal tadi pasti secara implisit telah membocorkan secara halus kemana film ini akan berlabuh. Tidak penting, karena hal itu bukan menjadi tujuan utama film ini, memberikan misteri dan membukanya diakhir cerita. Tujuan utama dari No adalah ingin membawa anda kedalam kondisi yang kembali membuktikan dimana David bisa mengalahkan Goliath, menggunakan kaum tertindas yang berhadapan dengan pemimpin diktator dan sangat berkuasa, beserta seorang malaikat penolong dengan mengandalkan kekuatan bahasa advertising yang ia miliki untuk merubah sistem sebuah negara.

No berjalan lambat di bagian awal, di isi dengan situasi dimana René sedang menyusun rencana yang akan ia pakai. Ini mungkin titik krusial dari film ini, pace lambat kurang begitu mampu memacu daya tarik dan sangat menuntut kesabaran dari penontonnya. Cukup lama, bagian berisi diskusi-diskusi itu hampir menguras 30 menit durasi. Point penting lainnya adalah bagaimana keputusan berani yang diambil oleh Pablo Larraín untuk menghadirkan gambar-gambar layaknya salah satu aplikasi berbagi gambar yang terkenal saat ini, yang bertujuan untuk membawa penontonnya lebih merasakan nuansa tahun 1988 dengan gambar yang tidak jernih berbalut nuansa vintage yang kental berkat kinerja yang baik dari divisi produksi. Sama seperti premis yang ia usung, hal ini akan menciptakan dua pilihan bagi penontonnya, suka atau tidak.

Semua mulai menarik ketika ancaman itu datang, dan René mulai menerima berbagai terror psikis yang secara naluri langsung menciptakan kondisi waspada baik terhadap dirinya sendiri, dan juga mantan istrinya Verónica Carvajal (Antonia Zegers) beserta anaknya Simon. Disini baru terlihat bahwa keputusan yang diambil Pablo Larrain diawal terasa tepat. Larrain cerdik dalam memainkan tempo cerita, dimana anda dibuat terlena dan waspada diawal sehingga menjadikan beberapa kejutan yang sebenarnya punya skala yang kecil namun cukup sanggup memberikan dampak yang baik terhadap cerita.

Punya premis yang menarik tidak menjadikan Pedro Peirano kehilangan kontrol dalam membangun screenplay yang ia susun. Cerita yang kuat itu berhasil ditata dengan rapi, sabar, sederhana, namun efektif. Ini seperti sebuah perjalanan tamasya, dimana anda diajak untuk melewati jalan yang berada di tepi tebing-tebing tinggi dan curam, menjadikan anda terus merasakan waspada walaupun terus terhibur dengan berbagai pemandangan indah, dan menemukan sebuah kepuasan ketika tiba di sebuah pantai yang indah diakhir cerita. No punya itu, sebuah polemik yang mencekam, dibalut dengan berbagai hiburan serta sedikit lelucon lewat proses mereka membangun iklan tanpa pernah kehilangan unsur gelap yang telah ia bangun.

Kekecewaan yang No berikan hanya berasal dari tensi cerita yang ia tawarkan. Ia pintar, kuat, serta unik, namun Pablo Larraín selalu menaruh tensi cerita pada level yang stabil, malah terlalu stabil bagi saya. Akibatnya, beberapa bagian yang seharusnya dapat menjadi shocking moment tidak berhasil membuat saya terkejut. Contohnya pada dua adegan penyerangan, yang memang berhasil bekerja dengan efektif, namun terasa kurang memiliki power. Saya merasa bagian-bagian tersebut yang seharusnya mampu semakin menambah warna politik bagi cerita, dan mampu menandingi dominasi unsur marketing yang dibawakan dengan baik oleh Gael García Bernal beserta cast utama lainnya.


Overall, No adalah sebuah film yang memuaskan. Pablo Larraín sukses membawa penontonnya merasakan ketatnya polemik yang terjadi dibantu dengan penggambaran yang sangat efektif buah hasil keputusan berani yang ia ambil. Punya cerita yang kuat, di tata dengan baik, teliti, dan pintar, No sukses menghidupkan kembali sebuah sejarah besar yang mampu merubah sistem suatu negara menuju ke arah yang lebih baik. Hey, sineas Indonesia, adakah yang berani mencoba hal yang sama, maybe?



0 komentar :

Post a Comment