05 October 2012

Movie Review: Katy Perry: Part of Me (2012)


Katheryn Elizabeth Hudson, atau yang lebih dikenal dengan Katy Perry jelas bukan seorang wanita biasa. Saya yakin semua penikmat musik setuju bahwa Katy Perry adalah penyanyi yang luar biasa. Lagu-lagunya yang bernuansa pop, rock, disco, bahkan gospel, selalu mampu membawa pendengarnya masuk lebih dalam menuju "something" yang ingin ia sampaikan ketika mendengarkan lagunya. Tapi tahukah anda di balik keceriaan yang selalu terpancar lewat aksi energiknya kini perjalanan yang ia tempuh sebelumnya tidaklah mudah. Katy Perry: Part of Me mencoba menceritakan itu kepada anda.

Film dengan durasi 93 menit ini akan menceritakan kisah perjalanan dari satu-satunya penyanyi wanita yang mampu menyamai rekor milik Michael Jackson dengan memiliki lima lagu dalam satu album di puncak Billboard ini. Dimulai dari ketika Katy masih berusia 15 tahun ketika bakatnya mulai tercium oleh salah satu band rock di Nashville, Tennessee, kemudian film yang menjadikan “California Dreams Tour” sebagai latar utama ini akan mengajak anda untuk ikut "membangun" kembali kisah Katy di bidang musik, ketika ia bertemu Glen Ballard yang menjadi tonggak awal karirnya, perbedaan visi dalam bermusik yang dimiliki dengan label tempat ia bernaung, hingga kemunculan single yang menjadi penyelamat karirnya, I Kissed a Girl.


Yap, film ini diawali dengan sebuah sajian yang menyenangkan, menyaksikan Katy memperjuangkan karirnya dengan pindah ke Los Angeles meskipun tidak disetujui oleh kedua orangtuanya yang sangat menjunjung tinggi agama dan tetap menginginkannya menjadi penyanyi gospel. Bagian ini menarik, selain tampilnya Katy ketika masih kecil lewat foto dan video yang memberikan sebuah fakta bahwa Katy memang sudah sangat senang untuk “show off” sejak ia kecil, latar belakang keluarganya juga memberikan sebuah warna kedalam cerita film ini. Keberuntungan berasal dari Lucifer? lol

Yang menambah nilai plus film ini adalah seluruh elemen pendukung konser dan juga keluarga dari Katy, menceritakan siapa itu Katy dari sudut pandang mereka. Dari assisten pribadi, manager, kakak, hingga teman-temannya, semua ikut ambil bagian dalam menciptakan image dari seorang Katy Perry yang ternyata tidak jauh berbeda di kehidupan aslinya. Oh ya, termasuk beberapa cameo seperti Adele, Rihanna, Lady Gaga, dan Jessie J. Proses menggali kehidupan Katy ternyata membuat intensitas menyanyi yang tidak sangat dominan, dan itu sebuah kejutan karena awalnya saya mengira akan mendapatkan scene menyanyi dari film ini setingkat dengan documenter milik Celine Dion.


Tapi, setelah satu jam, energi cerita mulai menurun seiring intensitas keceriaan dari Katy Perry yang juga perlahan dikurangi. Konflik baru yang coba diselipkan mengangkat kisah perceraian Katy dengan Russell Brand sebagai pusat utama. Tujuan utama jelas mencoba menggambarkan sisi lain dari Katy Perry yang selama ini tidak kita dapat lihat. Yang sangat disayangkan adalah penempatan bagian ini yang bagi saya kurang tepat.  Bagian ini selain membuat tensi film turun juga menyebabkan kisah yang telah dibangun dengan baik sejak awal tidak mendapatkan penutup yang sama baiknya. Kisah sedih Katy Perry, disusul pelajaran yang dipetik dari beberapa fansnya memang berhasil menyampaikan sisi rapuh dari Katy Perry ketika masalah menghampirinya, namun kurang berhasil menjadi pelengkap sekaligus penutup yang baik bagi keseluruhan cerita.

Terlepas dari minus yang film ini miliki materi yang ditampilkan menghadirkan sebuah tingkat kepuasan tersendiri bagi saya. Meskipun bukan fans berat dari seorang Katy Perry sepanjang film saya ikut bersenandung kecil ketika ia menyanyikan lagu-lagu yang sudah familiar bagi saya, dan di beberapa bagian saya memperoleh "chilling moment" skala kecil di samping kemampuan film ini  membawa saya sedikit lebih mengenal Katy lewat kisah perjalanan karirnya di dunia musik. 

Cerita yang menyenangkan, dengan tokoh utama yang memang menyenangkan, hanya akan menghasilkan suatu hasil yang menyenangkan pula. Bagian favorit saya adalah ketika Katy membawakan versi berbeda dari “I Kissed a Girl”, sedikit jazzy yang menarik di awal, dan dihentak kembali setelah penjelasan bagaimana lagu itu menjadi awal sukses Katy. Dan juga Katy Beth Perry. Namun tidak bisa dipungkiri seperti genre documentary pada umumnya anda akan menemukan beberapa bagian yang terasa disengaja untuk mendukung cerita. Mungkin itu sedikit minus dari Jane Lipsitz dan Dan Cutforth yang juga memproduseri film dengan genre serupa, Justin Bieber: Never Say Never.


Overall, Katy Perry: Part of Me merupakan film yang menghibur. Dibuka dengan Teenage Dream, dan ditutup dengan California Gurls, Katy Perry sukses menciptakan negeri dongeng yang ia inginkan, lewat kisah yang ia alami sejak awal masuk ke dunia musik. Penempatan lagu selalu sesuai dengan kisah yang diangkat. Yap, sasaran utama film ini diciptakan tentu saja adalah para KatyCats, penggemar Katy Perry. Saya yakin mereka akan mendapatkan kepuasan menyaksikan kisah hidup Katy Perry diangkat ke layar lebar. Katy Perry: Part of Me adalah film yang menyenangkan meskipun ditutup dengan cara yang seharusnya bisa lebih baik lagi.

Score: 7,25/10

1 comment :