13 July 2012

Movie Review: Ice Age: Continental Drift (2012)


Continental Drift adalah proses pecahnya satu dataran yang sangat luas yang terjadi dimasa purbakala, menjadi beberapa bagian dengan ukuran lebih kecil yang saat ini kita kenal sebagai benua. Lupakan sejenak teori ilmiah tentang penyebab perpecahan itu. Dalang utamanya adalah The Scrat!! The Scrat masih dengan kebiasaan lamanya, mengejar biji pohon ek, yang sejak film pertama memiliki kekuatan magis yang dapat membelah daratan. The Scrat masuk hingga ke inti bumi, yang menjadi awal mula terjadinya continental drift.

Continental Drift mengakibatkan terjadinya pergeseran daratan, baik secara vertical maupun horizontal. Ini mengakibatkan Manny (Ray Romano) terpisah dari istrinya Ellie (Queen Latifah) serta anak perempuannya Peaches (Keke Palmer). Manny bersama Sid (John Leguizamo), Diego (Denis Leary), beserta Nenek Sid (Wanda Sykes) yang ditinggal paksa oleh anaknya, berlayar mengarungi samudera untuk mencari daratan yang baru dengan harapan dapat kembali bertemu keluarga mereka. Namun misi itu tidaklah mudah. Mereka bertemu Captain Gutt (Peter Dinklage), penguasa samudera. Celakanya tingkah konyol yang mereka lakukan pada akhirnya menimbulkan permasalahan dengan Captain Gutt.  Ini juga mempertemukan Diego dan Shira (Jennifer Lopez), yang merupakan assisten dari Captain Gutt.


Apa itu Ice Age bagi saya? Ice Age adalah "Sid dan Scrat". Duo S ini menurut saya menjadi kunci bagi Ice Age. Jika lelucon yang kedua karakter ini berikan tidak berhasil dieksekusi dengan baik, maka film ini selesai. Dan yap, mereka kali ini kurang sukses. Ada beberapa lelucon dari Sid yang berhasil, namun itu minor dan sisanya terasa datar. Begitu pula The Scrat, yang memberikan impresi yang besar di awal film, namun seolah hilang dan baru terasa kehadirannya ketika ia masuk ke Scratlantis.

Rasa yang diberikan oleh Mike Thurmeier yang kali ini berduet dengan Steve Martino masih sama dengan Ice Age 3. Memang terdapat beberapa pesan yang bisa dibilang cukup berhasil dalam penyampaiannya. Dari bagaimana Manny mendapatkan pengalaman bersikap sebagai seorang ayah yang dapat menyenangkan anak perempuannya, hingga Peaches yang belajar apa arti sahabat yang sebenarnya ketika ia mulai meninggalkan Louis (Josh Gad) untuk bergaul dengan Ethan (Aubrey Graham). Namun itu tidak cukup untuk menutupi kelemahan film ini. Mengekploitasi kekonyolan dari masing-masing karakter, tanpa disertai cerita yang benar-benar kuat dan cenderung mudah ditebak.

Terdapat beberapa bintang baru di jajaran pengisi suara film ini. Peter Dinklage, Jennifer Lopez, Aubrey Graham (Drake), Nicki Minaj, Kunal Nayyar, dan Nick Frost, bergabung dengan Simon Pegg yang telah hadir sejak film ketiga. Peter Dinklage memberikan impresi yang terbaik diantara pengisi suara baru. Dan yang paling mudah ditebak adalah Nicki Minaj. Ketika mendengar suara Steffie yang merupakan sahabat Ethan untuk pertama kali, saya yakin itu Nicki Minaj, dan ternyata benar. Hahaha. Yang sedikit mengecoh adalah suara Flynn, yang awalnya saya mengira diisi oleh Stephen Fry. Dan hebatnya saya tidak sadar ada Jennifer Lopez dan Drake pada film ini hingga film berakhir dan credit dimulai.


Overall, film ini menyajikan tontonan yang cukup menghibur. Seperti yang saya jelaskan diawal, film ini bagi saya adalah Sid dan Scrat. Ekspektasi saya sejak awal memang tidak begitu tinggi. Meskipun detail dan music yang diberikan kurang impresif sentuhan warna serta karakter baru yang diciptakan terasa sangat baik. Alur cerita mengalir dengan baik dan tidak memberikan kesempatan pada rasa bosan untuk hadir. Tingkah konyol karakter yang terus disuntikkan sejak awal hingga akhir menjaga tensi film cukup stabil, meskipun eksekusi humornya sendiri kurang maksimal. Membuka film ini dengan The Simpsons sendiri merupakan keputusan yang baik.

Score: 6/10

0 komentar :

Post a Comment