27 March 2013

Movie Review: G.I. Joe: Retaliation (2013)


Ketika 110 menit itu berakhir, saya menjadi paham dan semakin yakin pada alasan dari Paramount Pictures menunda tanggal rilis film ini yang awalnya berada di akhir juni 2012, menjadi akhir bulan maret tahun ini. Well, beragam alasan mereka pakai, dari penambahan efek 3D, untuk meningkatkan daya tarik penonton, menghindari bentrok dengan Katy Perry: Part of Me, hingga dua alasan lainnya yang terkait dengan Channing Tatum. Pfftt, mereka sebenarnya cuma tidak yakin dengan kualitas film ini.

Zartan (Jonathan Pryce) beraksi, dan kali ini ia memanfaatkan keahliannya dalam melakukan penyamaran, menjadi presiden USA (Jonathan Pryce), dan mulai mengendalikan USA sesuai kehendaknya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menghancurkan G.I. Joe dengan menyerang markas mereka, yang mengakibatkan tewasnya pemimpin mereka Duke  (Channing Tatum). Zartan kemudian mengumpulkan seluruh pemimpin dunia yang negaranya memiliki senjata nuklir, dan mulai “bermain” dengan mereka yang dapat berdampak pada hancurnya populasi dunia.

Upaya penyelamatan dilakukan, dan kali ini pemimpinnya adalah Roadblock (Dwayne Johnson), sahabat karib Duke, yang ternyata bersama Lady Jaye (Adrianne Palicki) dan Flint (D.J. Cotrona) selamat dari serangan yang di lancarkan oleh Zartan. Bergabung bersama Jenderal Joseph Colton (Bruce Willis), serta tak lupa icon mereka Snake Eyes (Ray Park), G.I. Joe memulai misi heroic mereka, menyelamatkan presiden USA, mencegah nuklir meluluh lantakkan bumi, serta menghancurkan Zartan bersama dua sekutunya, Firefly (Ray Stevenson) dan Storm Shadow (Lee Byung-hun).


Oke, seperti yang saya singgung diawal, salah satu alasan Paramount cukup berhasil, dimana saya yakin banyak penonton yang semakin penasaran pada apa yang akan diberikan film ini dengan penundaan yang mereka alami itu. Tapi sekali lagi saya sebutkan, semua itu tidak tepat. Ya ya, penambahan efek 3D memang bekerja cukup baik, serta rasa penasaran penonton juga ikut meningkat. Namun, bagi saya G.I. Joe: Retaliation adalah adik dari sepupunya yang bernama Hansel and Gretel: Witch Hunters, film yang juga berada di bawah kendali Paramount, film yang juga mengalami nasib sama yaitu penundaan jadwal rilis.

Identik, mereka berdua identik, cukup mampu menghibur dari tampilan visual, namun sangat berantakan dalam cara ia menyampaikan cerita. GIJR punya premis yang berpotensi untuk memukau, sayangnya Rhett Reese dan Paul Wernick tampak sangat berambisi untuk menjadikan film ini menjadi megah dan besar. Mereka menyusun cukup banyak sub plot untuk mendampingi plot utama cerita. Dimulai dari hubungan persahabatan, kisah anak perempuan dan ayahnya, hingga konflik kecil lainnya yang terkait dengan Storm Shadow, tampak seperti sekedar lewat tanpa memiliki kontribusi yang menarik pada cerita.

Sudah punya dasar yang lemah, kondisi semakin diperparah dengan kinerja dari Jon M. Chu. Sangat sulit menemukan harmoni yang cantik antar konflik, ikatan yang seharusnya terjalin dengan baik sehingga menjadikan cerita yang ia usung menjadi solid. Konflik (A) berdiri sendiri, begitupula dengan B, C, dan seterusnya. Memang saling berkesinambungan, namun sangat terasa adanya sebuah paksaan dalam cara mereka di tempatkan dan dibentuk. Hasilnya, anda akan merasa seperti di paksa untuk tertawa ketika mereka mencoba untuk lucu sejenak (mayoritas gagal bekerja pada saya), kemudian kembali beraksi, melucu kembali, dan beraksi lagi. Tidak diberikan secara total menjadikan film ini terasa tidak stabil, kurang konsisten, dimana terdapat jurang yang cukup besar ketika tensi naik dan ketika ia turun. Kesalahan lainnya adalah begitu banyaknya adegan yang sudah tersebar lewat trailer yang mereka hadirkan (yang bahkan menjadi pembuka The Croods). Hasilnya, pace cerita terasa naik ketika momen itu akan hadir, dan turun kembali ketika ia berlalu.

Apakah film ini seburuk itu? Well, setiap film pasti punya kategori penonton yang ia incar, dan sayangnya saya bukan termasuk dalam kategori yang menjadi target film ini. Adegan action mungkin akan cukup menghibur bagi anda, namun bagi saya justru terasa seperti tidak memiliki konsep yang jelas dan lebih berfokus pada bagaimana membuat tensi cerita naik sehingga penonton juga ikut berpacu bersama mereka. Nilai plus terletak pada Snake Eyes (yang sejujurnya menjadi daya tarik utama film ini bagi saya), tetap mampu menciptakan daya tarik dengan ciri khas yang ia miliki. Begitupula dengan Adrianne Palicki, yang cukup berhasil menjadi scene stealer ketika ia muncul dihadapan anda, serta Jonathan Pryce yang sukses dengan peran ganda yang ia kontrol.


Overall, G.I. Joe: Retaliation adalah film yang tidak memuaskan. Screenplay menghancurkan semuanya. Terlalu berambisi untuk tampil keren mengakibatkan kurangnya pendalaman pada setiap konflik, tidak tercipta harmoni cerita yang baik dan halus, tensi cerita yang bergerak naik dan turun secara dinamis, menghasilkan hiburan yang sangat jauh dari kesan solid dan bahkan untuk sekedar sedikit cerdas. Tampilan visual tidak mampu menyelamatkan film ini. Segmented movie, dengan dua opsi, love it, or hate it.


2 comments :

  1. Honestly, I’m not expecting anything Oscar worthy here. But then, I’m one of the few who thought the first film was a lot of fun.

    ReplyDelete