22 April 2020

Movie Review: Moonlit Winter (Yunhui-ege) (2019)


“I truly prayed for your happiness, even though you left me.”

Rasa sedih dan mungkin penyesalan seolah telah menjadi bagian penting dari sebuah perpisahan, ketika kebersamaan itu harus berakhir di balik rasa sedih terkadang perlahan akan muncul rasa menyesal akan berbagai hal. Tidak jarang hal tersebut dapat menghantui pikiran dalam jangka waktu yang sangat lama, seperti hati masih belum mau berdamai dan terus menerus merasakan ada sebuah masalah yang harus diselesaikan, hal yang coba diceritakan oleh film ini. ‘Moonlit Winter´: a spot-on drama about personal redemption.

Sae-bom (Kim So-hye) merupakan seorang pelajar Sekolah Menengah Atas yang tinggal bersama Ibu, Yoon-hee (Kim Hee-ae). Tidak seperti Sae-bom yang mengisi kesehariannya dengan bercanda bersama pacarnya Kyung-soo (Sung Yu-bin), kehidupan Yoon-hee tampak kelam. Setelah menjalani perceraian dengan In-ho (Yoo Jae-myung) hidup Yoon-hee tampak depresif, seperti memiliki sebuah beban atas masalah yang belum ia selesaikan, hal yang celakanya tidak pernah dia bagi dengan siapapun, termasuk Sae-bom.

Namun suatu ketika Sae-bom menemukan sebuah surat cinta misterius yang tertuju untuk Yoon-hee, surat cinta yang berasal dari Hokkaido, Jepang. Surat cinta tersebut kemudian membuat Sae-bom merasa penasaran dengan masa lalu sang Ibu. Merasa kondisi tersebut juga merupakan sebuah kesempatan bagi dirinya untuk lebih mengenal Ibunya, Sae-bom kemudian menyusun rencana berlibur bersama Yoon-hee, ia ingin membantu Yoon-hee keluar dari depresi dengan menggunakan sebuah rencana yang ia rahasiakan.  
Alasan utama mengapa drama dengan sedikit bumbu romance ini berhasil bekerja dengan baik adalah berkat kemampuan Sutradara Lim Dae-hyung dalam menjaga pesona dan fokus utama yang telah ia bentuk sedari awal. Lika-liku masalahnya sendiri sangat sederhana, di sini Yoon-hee adalah seorang wanita yang masih “terperangkap” di dalam sebuah masalah di masa lalunya yang kembali datang menghantuinya setelah ia bercerai. Masalah yang belum selesai itu tampak menggelayuti pikiran karakter utama kita terlebih ketika ia kembali menerima sebuah surat cinta dari masa lalunya itu. Tidak ada eksplorasi yang digali terlalu jauh dari sana, cerita sudah dipagari agar menaruh fokus pada masalah utama tersebut hingga akhir.

Hasilnya fokus cerita terasa memikat di sini, bagaimana rencana terselubung yang disusun oleh Sae-bom itu berhasil memberikan jalan atau kesempatan bagi sang Ibu untuk mencoba berdamai dengan batinnya. Lim Dae-hyung menciptakan ritme yang manis dalam eksposisi cerita yang ia tampilkan, ketimbang membawa masuk karakter langsung ke point permasalahan ia justru membawa Yoon-hee terombang-ambing di dalam perasaan sedih dan bingung. Sembari hal tersebut perlahan membawa emosi Yoon-hee terus berkembang secara kumulatif kita dibawa menyaksikan bagaimana di sisi lain Sae-bom dan Yoon-hee juga perlahan membangun koneksi yang selama ini mungkin terlalu biasa untuk ukuran seorang Ibu dan anaknya.
Cara ‘Moonlit Winter´berjalan memang tenang, sangat tenang malah sehingga dari kulit luarnya ia seolah tidak memiliki konflik yang benar-benar penting. Lim Dae-hyung memang mendorong proses “berdamai” yang sedang dijalani oleh Yoon-hee dan karakter lain sebagai mesin penggerak utama cerita, ia yang kembali ke kota asal cintanya di masa lalu itu mencoba untuk menghadapi konsekuensi dari kisah yang telah kandas itu. Prosesnya sendiri dibentuk dengan sabar dan perlahan tapi impact yang dihasilkan sangat kuat. Itu bisa terlihat ketika momen mengejutkan itu muncul, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi mereka membutuhkan waktu yang cukup lama menemukan keberanian untuk memulai percakapan dan saling mendekat.

Sederhana memang tapi ada emosi yang manis di sana, sama seperti ketika Lim Dae-hyung menempatkan Sae-bom di sisi Yoon-hee untuk kemudian membuat mereka perlahan mengamati satu sama lain. Perasaan sedih yang terus ditunjukkan oleh Yoon-hee pada dasarnya bersumber dari rasa bersalah yang ia simpan, dan itu diekplorasi dengan baik oleh Dae-hyung di sini. Ini adalah kisah tentang penyesalan, cinta yang kandas serta hilangnya kesempatan, tidak hanya dialami oleh Yoon-hee saja namun juga karakter lain yaitu Jun (Yūko Nakamura). Semakin cantik karena Lim Dae-hyung juga cerdik dalam menggunakan putihnya salju dan bulan sebagai latar belakang dari upaya berdamai karakter.
Sebenarnya ‘Moonlit Winter’ bukan sebuah drama yang “besar” namun sukses menjadi sebuah presentasi yang memikat berkat racikan yang tepat di setiap elemen pembentuknya. Tidak hanya pada cerita, eksposisi, hingga setting latar termasuk cinematography dan score yang manis itu, Sutradara Lim Dae-hyung berhasil membangun karakter yang cantik di sini. Ia mengedepankan silent pain di sini, tampak minimum tapi mampu membuat karakter tersiksa dan hancur di dalam penyesalan dari masa lalu. Tidak ada dramatisasi yang berlebihan membuat fokus tertuju dengan kuat pada upaya karakter untuk menemukan jalan dan mencoba mendapatkan ketenangan serta kedamaian batin.

Pencapaian tersebut juga tidak lepas dari kualitas akting yang ditampilkan oleh para aktor. Menampilkan trauma, kesedihan, rasa sakit, dan penyelesalan yang mendalam dengan cara yang minimalis bukan sebuah pekerjaan yang mudah, namun itu dilakukan oleh Kim Hee-ae (Thread of Lies, Mrs. Cop, The World of the Married) dengan sangat mudah di sini. Dalam ketenangan yang Hee-ae tampilkan penonton dapat merasakan gejolak yang sedang terjadi di dalam diri Yoon-hee, ekspresi dan tatapan matanya mengandung emosi yang manis. Begitupula dengan Yūko Nakamura meskipun ia memiliki porsi yang lebih sedikit. Yang mencuri perhatian adalah Kim So-hye, ia berhasil membuat Sae-bom menjadi anak perempuan berjiwa rebel namun memiliki hati lembut serta energi yang menyenangkan untuk diikuti.
Overall, ‘Moonlit Winter (Yunhui-ege/윤희에게) adalah film yang memuaskan. Terkadang sebuah drama yang mencoba menggambarkan kesedihan hingga trauma dari masa lalu kerap menggunakan dramatisasi yang excessive, mengeksploitasi rasa sakit karakter untuk meninggalkan impact yang kuat bagi penonton. Hal yang sebaliknya dilakukan oleh Lim Dae-hyung di sini, tidak memaksa cerita dan karakter untuk tampak “besar” namun dengan cara-cara sederhana dalam pergerakan yang tenang menghadirkan sebuah introspeksi yang manis dan tetap mencapai sasaran serupa, yaitu meninggalkan impact yang kuat dan memikat. Segmented.








0 komentar :

Post a Comment