07 August 2014

Movie Review: The Babadook (2014)


“Let me in! Let me in!”

Mana diantara dua opsi berikut yang menurut anda akan memberikan sensasi menonton yang lebih mengasyikkan: secara konsisten terus disajikan berbagai materi horor dari gimmick klasik hingga jump scare, atau justru masuk kedalam petualangan dimana anda hanya di beri tahu bahwa ada sesuatu yang menyeramkan disana namun kemudian dilepas untuk bermain-main secara liar bersama imajinasi yang perlahan membentuk sendiri rasa takut anda? For me opsi kedua lebih mengasyikkan, dan film ini punya hal tersebut, The Babadook, a very good classic haunted house & psychological horror. Gripping. Riveting!

Pada hari dimana ia hendak melahirkan, wanita bernama Amelia (Essie Davis) justru harus kehilangan salah satu sosok yang paling ia cintai dalam hidupnya. Suaminya, Oskar (Ben Winspear), meninggal dunia akibat kecelakaan mobil tujuh tahun yang lalu, kisah yang juga menjadi favorit bagi anak mereka Samuel (Noah Wieseman) untuk diceritakan kepada orang lain. Celakanya beban Amelia tidak hanya harus berjuang keluar dari mimpi buruk tadi, menjadi ibu tunggal di usia muda, namun juga harus berhadapan dengan tingkah laku Sam yang bahkan telah dinilai mengerikan oleh orang-orang disekitar mereka.

Namun seperti ibu pada umumnya Amelia tidak merasa ada yang salah pada Sam, ia bahkan dengan sabar menunjukkan pada anaknya itu bahwa tidak ada sosok aneh di dalam lemari hingga dibawah tempat tidur seperti yang ia ucapkan, dan kemudian membacakan Sam buku cerita sebelum tidur. Tapi suatu hari siklus yang mereka lakukan secara teratur itu berubah dimana Sam diperbolehkan untuk memilih buku cerita yang ia inginkan. Buku yang dipilih itu berjudul "Mister Babadook", buku bersampul merah tanpa penerbit dan penulis yang berkisah tentang tuan Babadook, sosok supranatural yang membawa bahaya bagi mereka.


Pertanyaan di bagian awal tadi sesungguhnya telah menjadi clue yang sangat besar, bahwa The Babadook bukan merupakan sebuah horror yang menggunakan premis dari sinopsis yang ia punya agar membuka arena bermain untuk kemudian menyuapi penontonnya dengan materi horror sembari mengajak mereka mencari jawaban atas teka-teki yang ia lemparkan. Jennifer Kent menekan kuantitas hal tersebut pada kisah yang ia lebarkan dari film pendek miliknya yang berjudul Monster ini, menjaganya untuk tampil dalam kualitas yang tidak kalah baik, namun kemudian menyandingkan hal tadi bersama perputaran cerita yang berisikan kelelahan psikologis atau penderitaan mental yang menyenangkan.

The Babadook adalah film horror yang menyenangkan karena berhasil bercerita dengan rapi. Seperti yang disebutkan sebelumnya anda tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada karakter, dan tanpa mencoba untuk tampil rumit penonton akan dengan mudahnya terjebak kedalam cerita berkat pesona dari dua karakter yang mampu membentuk "something wrong" itu tampak menjanjikan. Tapi dari sana pula penonton kemungkinan akan terpecah karena pada dasarnya The Babadook mayoritas berisikan aksi menunggu dimana kita diajak untuk mengamati proses destruksi pada karakter dari positif menjadi negatif, dan dengan visi yang kuat hal itu berhasil Jennifer Kent tampilkan dengan padat.


Apa maksudnya? Mengapa begitu rumit hanya untuk ditakut-takuti? Sebenarnya tidak, jika anda sejak awal telah klik dengan visi Jennifer Kent yang memilih tampil dengan visi sebuah tahapan, sebuah petualangan yang lebih mengedepankan permainan atmosfir atau suasana hati untuk kemudian membangun masalah dengan perlahan diselimuti keheningan tanpa harus kehilangan kontrol pada sensasi. Mungkin akan terasa asing, tapi pilihan berani itu menghasilkan kemasan yang terasa kuat, dari "something wrong" masuk kedalam permainan emosional ditemani rasa sedih, benci, marah, stress, dan takut, kemudian terjebak lebih dalam bersama terror serta berbagai guncangan yang dikemas dengan cekatan.

Hasil dari skenario tadi adalah sebuah tahap akhir yang "menyeramkan" dan membayar lunas kesabaran para penontonnya. Derit pintu, langkah perlahan, menanti di kegelapan dalam kondisi waspada, hal-hal klasik tadi bahkan kerap di mix dengan momen-momen lucu yang mampu mengundang tawa, tapi alasan mengapa The Babadook merupakan real deal di genre horror tahun 2014 sejauh ini adalah karena ia mampu menyandingkan dengan sangat baik narasi bersama dengan sensasi. Apa yang anda inginkan dari sebuah film horror The Babadook punya, dan meskipun kuantitasnya terasa kurang tidak akan terasa mengganggu berkat narasi yang dipenuhi interaksi dan emosi yang juga tampil menarik.


Lantas apa minus yang mengganggu dari The Babadook? Imo tidak ada, tidak begitu menyeramkan memang tapi sensasi horror yang ia berikan sangat menyenangkan. Nah, hal terakhir itu yang mungkin akan sedikit berbeda, tidak ada boom-boom-boom penuh kejutan oktan tinggi disini, The Babadook lebih seperti sebuah orchestra yang membuat penontonnya terombang-ambing dan kemudian terkejut ketika nada sedikit tinggi hadir sesaat. Semua dijaga untuk tampil ketat, dari fokus pada cerita, fokus pada emosi, hingga atmosfir, meskipun ada aksi menunggu tidak ada yang terasa layu, semua karena tersusun dalam sebuah skema yang di eksekusi dengan rapi, keseimbangan yang mampu membentuk teknik seperti close-up dapat memberikan rasa segar pada horror tradisional ini.

Dua pemeran utama juga punya andil sangat besar pada kesuksesan yang diraih The Babadook, terlebih mengingat penggunaan efek yang cukup minim disini. Noah Wieseman adalah bintang baru yang cemerlang, sangat suka pada cara ia melemparkan teror di awal dengan menggunakan mata, kesan ambigu pada misteri juga mayoritas terjaga dengan sangat baik berkat kemampuannya dalam menyeimbangkan penggunaan ruang bersama Essie Davis. Mungkin masih terlalu dini, tapi nama terakhir punya kans yang cukup kuat untuk menjadi aktris terbaik versi saya tahun ini, seperti menyaksikan Mia Farrow di Rosemary Baby, berawal dari rasa lelah kemudian kemunculan rasa sakit, marah, hingga sedih itu ditampilkan dengan sangat baik oleh Essie Davis namun tetap mudah dijangkau oleh penontonnya.


Overall, The Babadook adalah film yang memuaskan. Sederhana dan tradisional, tapi keputusan untuk tidak hanya sebatas menjual efek khas horor bersama visual suram, kemudian menyandingkan mereka dengan narasi yang lucu tanpa harus terasa konyol, menyentuh tanpa terasa terlalu mellow, hingga bermain-main liar dalam ketenangan tanpa terasa menjengkelkan, Jennifer Kent serta dua pemeran utama berhasil menghadirkan efektifitas pada sebuah dongeng psikologis dan supranatural yang: bijak dalam bercerita, lembut ketika berjalan, namun tetap pedas saat memberi "kejutan". Ba-ba-ba! Dook-dook-dook!









4 comments :

  1. hey, how did u get to see the film?

    ReplyDelete
  2. Filmnya memang tdk menjual ending-2 wah,, tetapi sgt menunjukkan kpd realita yg begitu sgt sederhana namun apik tanpa harus dipengaruhi olh musik menegangkan utk menambah daya tarik kpd kemencekaman",,salut utk film ini - krn ini terasa real"
    & juga atas ulasannya dr kisanaq"

    ReplyDelete