08 October 2014

Review: Dracula Untold (2014)


"Every bloodline has a beginning." 

Film yang merupakan gabungan dari dark fantasy, action, dan juga horor ini mungkin akan kurang mampu menghasilkan impresi positif pada calon penonton yang sudah kenyang mengkonsumsi film tipikal seperti ini, bahkan dari poster yang ia berikan, tapi dibalik itu ada ambisi dan beban besar pada film dengan budget besar ini. Dracula Untold dicanangkan menjadi pembuka dari rencana reboot Universal Monsters franchises yang katanya hendak mencoba menerapkan Avengers-style di dalamnya. Sayangnya ambisi yang menarik itu tidak berjalan lurus dengan hasil yang diberikan film ini. 

Kehidupan Vlad III ÈšepeÈ™ (Luke Evans) yang damai berubah setelah Sultan Mehmed II (Dominic Cooper) menebar ancaman kepadanya, menginginkan 1000 anak laki-laki untuk bergabung menjadi tentaranya, termasuk didalamnya anak Vlad, Ingeras (Art Parkinson). Untuk menyelamatkan orang-orang yang ia kasihi, termasuk sang istri Mirena (Sarah Gadon), Vlad pergi ke Broken Tooth Mountain untuk bertemu dengan setan Romawi bernama Caligula (Charles Dance). Kesepakatan mereka buat untuk menyelematkan kerajaan, namun resiko yang dihasilkan dari kesepakatan itu juga tidak kalah berat.



Cerita yang ditulis oleh Matt Sazama dan Burk Sharpless sepertinya memang sengaja di set untuk bermain aman di zona netral, meskipun memang kita tetap diberikan sajian dunia kegelapan yang kita harapkan sejak awal, tapi kualitas mereka terasa kurang kuat. Di bawah arahan Gary Shore film ini tampak terus berupaya keras untuk mudah dinikmati, apa yang ia berikan tampak ambigu yang seperti disengaja untuk meraih atensi penonton yang telah klik dengan film-film superhero sekarang ini. Iya, meskipun ia merupakan sosok kegelapan tapi ada nafas komik yang kental disini, dan itu coba di blend dengan unsur gothic yang tetap dominan. Sebuah ambisi yang besar, bukan?

Tapi sayangnya karena ambisi itu juga film ini terasa loyo, terasa kurang semangat, minim energi. Ini ibarat singa yang ompong, upaya campur aduk berbagai warna dari superhero hingga Game of Thrones yang tidak mampu dibentuk dengan tajam, tidak punya taji. Dari gambar dengan efek visual yang menjemukan, fantasi yang tidak imajinatif dan terkesan berantakan, tidak ada ketakutan pada konflik, tidak ada ketegangan, tidak ada sensasi dan juga gairah dari cerita dan karakter, dari sisi substansi ia miskin, dari sisi style ia juga sama miskinnya, kekacauan yang keruh dengan kelelawar disana-sini, mencoba menakut-nakuti tapi seperti tidak pernah bosan untuk kembali sejenak kedalam romansa klise yang sama tumpulnya itu. 



Ini yang terasa aneh, mereka punya ambisi untuk membangun universe milik mereka tapi mereka seperti kebingungan bagaimana cara menjual jualan mereka. Gary Shore gagal menarik rasa penasaran penonton, bukan hanya pada kisah di film ini tapi juga pada Universal Monsters itu secara keseluruhan. Ia tidak berani memisahkan hitam dan putih disini, baik dan jahat, semua ia biarkan ambigu seolah-olah cara itu akan membuat penonton merasa tertarik lebih dalam. Tidak mengharapkan sesuatu yang benar-benar megah memang, dan mendapati fakta ia masih lebih baik dari I, Frankenstein sebenarnya juga cukup melegakan, tapi ini bisa tampil lebih baik lagi mengingat Luke Evans tidak tampil begitu buruk, bukan hanya perputaran cerita yang membosankan selama satu jam untuk sebuah pertempuran cukup menarik di bagian akhir.  



Seandainya ini tampil lebih berani, bukannya justru terjebak di antara kesan komik dan gothic, kemudian memberikan fokus yang sedikit lebih besar pada karakter untuk menutupi dialog-dialog yang tidak memikat itu, Dracula Untold mungkin bisa menjadi sebuah guilty pleasure, bukan sebuah petualangan dengan ambiguitas tingkat tinggi yang diwarnai dengan hal-hal konyol seperti adegan aksi rumit yang berantakan sampai cerita yang disampaikan seperti seorang yang sedang mengantuk, tidak segar dan kekurangan semangat. Unengaging.







0 komentar :

Post a Comment