28 February 2015

Review: The Duke of Burgundy (2014)


"As long as I'm yours, I'm alive."

Memang tidak semua penonton akan mengalami hal ini tapi pasti ada diantara kita yang akan mengalami perubahan pada sistem indera ketika adegan sensual hadir di layar, contohnya seperti kissing scene hingga bed scene. Hal apa yang sering kamu lakukan saat adegan tersebut hadir? Beragam pastinya, dari tersenyum, memalingkan mata sampai wajah, mengatur posisi duduk, hingga yang paling menjengkelkan ketika mendengar beberapa penonton lainnya mulai menghasikan bunyi-bunyi seperti batuk kecil misalnya. Tapi hal paling favorit bagi saya diantara itu semua adalah dengan meneguk air atau soft drink. Lalu apa hubungannya dengan film ini? Tidak dalam kondisi dehidrasi The Duke of Burgundy sukses membuat saya menghabiskan satu softdrink ukuran medium, air mineral 600ml, dan satu botol juice 360ml pada percobaan pertama. Beautiful sexotic erotica, it make Fifty Shades of Grey looks like a joke! (Warning: review contains some mild image who might be an age-inappropriate content).

Cynthia (Sidse Babett Knudsen) merupakan wanita paruh baya dengan rutinitas yang konsisten setiap harinya, dari ke perpustakaan, lalu seminar hingga mempelajari serangga seperti kupu-kupu. Buku dan serangga sangat dominan didalam rumahnya yang mewah dimana Cynthia tingal bersama seorang wanita bernama Evelyn (Chiara D'Anna). Ada sebuah hubungan yang aneh diantara dua wanita ini, contohnya ketika Cynthia selalu mencoba menemukan kesalahan pada pekerjaan yang dilakukan oleh Evelyn, hingga suatu ketika Cynthia meminta Evelyn untuk melakukan role-playing dengannya, ia menjadi penguasa dan Evelyn menjadi budak seks. Celakanya hubungan mereka mulai goyah ketika batas antara fantasi dan dunia nyata mulai menghadirkan rasa yang aneh. 



Memang tidak bisa dipungkiri kalau rasa puas yang diberikan oleh The Duke of Burgundy sedikit di pengaruhi oleh rasa kecewa saya pada Fifty Shades of Grey yang memiliki kemiripan tema bahkan sinopsis utamanya, tapi ketika mencoba menyaksikannya untuk kedua kali saya kata keren yang saya gunakan saat selesai menonton sebelumnya berubah menjadi luar biasa di kesempatan kedua. Kebalikan dari Fifty Shades of Grey, ini seperti membawa kamu kedalam foreplay, lalu menu utama hingga berakhir pada klimaks yang meninggalkan kamu denga perasaan terpukau dan bahagia. Beginilah seharusnya sebuah film erotis dibuat, ia tidak menjanjikan nudity yang berlebihan tapi ia mampu membuat kamu sebagai penontonnya mulai merasakan gesekan-gesekan yang menggairahkan bukan hanya bagi mata lewat tampilan visual tapi juga menghadirkan hal tersebut bagi imajinasi penontonnya.



Film ini seperti anak tangga bagi Peter Strickland untuk melangkah naik setelah Berberian Sound Studio dan semakin mengukuhkan diri sebagai pria unik yang mampu mengubah hal sederhana menjadi hiburan yang menarik. Ini pada dasarnya hanyalah kisah dua wanita yang terlibat sebuah hubungan lalu kemudian salin memeriksa satu sama lain hingga akhirnya terjebak, tapi darisana kita justru dibawa masuk kedalam kerumitan yang bahkan disajikan dalam alur yang dapat membuat penontonnya hanyut dan bingung. Peter Strickland sangat cerdik dalam menyusun narasi, kita seperti diputar-putar bersama tiga hal, karakter dan cerita yang fokus dan menarik, ada rangsangan pada imajinasi, lalu ada rasa waspada bukan hanya terkait apa yang akan datang selanjutnya tapi juga pada kemungkinan kehilangan arah bersama setting dingin yang ia gunakan. Tiga hal tersebut yang membuat segalanya berputar penuh kejutan.


Iya, penuh kejutan dan hebatnya film ini adalah ia memiliki banyak momen yang terasa adiktif, momen yang seperti ingin kamu ulang kembali, dan akhirnya melakukan rewatch. Tapi meskipun begitu tanpa rasa ragu saya akan mengatakan The Duke of Burgundy sebagai film yang segmented, ia menampilkan hal-hal aneh yang bisa saja tidak berakhir menjadi sesuatu yang menarik bagi penonton tapi sebagai sesuatu yang menjengkelkan. Sebenarnya jika di perhatikan lebih jauh ini merupakan film yang mudah untuk terasa seksi bagi semua penonton karena ia tidak hanya memberikan kamu hidangan visual, dibalik itu ia punya cerita dengan inti yang tidak kalah menarik. Sadomasochism/BDSM, itu pusat utamanya tapi disamping itu ada isu tentang relationship yang dikupas disini, dari kasih sayang, rasa takut dan cemas, hingga kejujuran yang menjadikan aksi mengamati menjadi lebih berisi bukan hanya sekedar rangsangan pada imajinasi.



Dua aktris utama bermain dengan sangat baik, Sidse Babett Knudsen yang akan membuat Anda bertanya-tanya pada misi utama dibalik permainan yang mereka lakukan, begitupula dengan Chiara D'Anna yang menampilkan kelembutan yang terkendali, tapi daya tarik utama The Duke of Burgundy adalah bagaimana semua materi di jadikan dinamis oleh Peter Strickland. Dari daya tarik masalah dan karakter dengan empati yang bagus di bagian awal lalu ia menciptakan fokus yang kuat, setelah itu ia memberikan kita keintiman dan emosi yang dapat berubah dari dingin dan panas, tapi setelah itu kita ditemani dengan kesan misterius yang mencoba mengeksploitasi isu relationship tanpa terkesan murahan. Itu semakin lengkap dengan gambar-gambar cantik yang memanjakan imajinasi, setting dingin yang manis, dan menariknya ia tampil seperti bermain tarik ulur dengan penonton, ia memberikan sesuatu yang serius tapi jangan kaget ketika kamu bertemu dengan humor-humor (human toilet!!) yang memberikan hit dengan positioning yang unik.



Sangat pintar menggoda indera, mungkin itu kalimat paling sederhana yang cocok buat The Duke of Burgundy. Dari setting dingin yang menampilkan kelembutan, lalu ada elemen sedih dengan emosi yang pas, setelah itu kita dibuat panas dengan dengan perpaduan seksi dan erotis yang tampil gelap dan indah, dibangun bersama teknis yang manis, ia punya humor yang membuat kamu tersenyum tapi ia tidak pernah lupa pada tujuan utamanya untuk mengeksplorasi berbagai isu relationship dan duniawi dengan cara mempermainkan penonton bersama fantasi ataupun imajinasi penuh thrill yang menggairahkan tanpa terkesan berlebihan. Beautiful and sexotic experience!







0 komentar :

Post a Comment