14 October 2014

Movie Review: Our Sunhi (2013)


"People in film aren't normal. They're all crazy."

Mereka bilang dunia ini panggung sandiwara, manusia sebagai aktor yang saling bertarung untuk menjadi yang terbaik, meskipun tidak sedikit diantara mereka merupakan pribadi kosong yang menyabotase diri mereka sehingga tenggelam dalam kesombongan tanpa identitas. Permasalahan tersebut coba digambarkan film ini dengan cara yang unik, Our Sunhi (Uri Seonhui), quite sharp and quite funny.

Sunhi (Jung Yu-mi) mungkin tidak pernah memikirkan hal ini, dan lebih fokus pada tujuan utama yang ia bawa, tapi kembalinya ia kedalam kampus setelah lulus seperti membangkitkan kembali berbagai permasalahan masa lalu miliknya yang belum selesai. Tujuan Sunhi sederhana, ia ingin bertemu dengan mantan professor-nya dulu, Choi Donghyun (Kim Sang-joong), dalam rangka meminta bantuan dalam bentuk surat rekomendasi agar ia dapat melanjutkan studi di bidang perfilman di USA. Namun ternyata dahulu ia merupakan siswa favorit Choi Donghyun, dan kisah masa lalu itu seperti mekar kembali.

Tidak hanya pada Choi Donghyun, karena ketika sedang duduk santai di sebuah restoran ia bertemu dengan Munsu (Lee Sun-kyun), sesama filmmaker yang juga merupakan mantan pacarnya. Lagi-lagi ada masalah yang tertinggal, ketika Munsu mengatakan semua film yang ia buat merupakan kisah dari hubungannya dengan Sunhi yang telah kandas. Masalah tersebut Munsu ceritakan pada Jaehak (Jung Jae-young), yang selama ini selalu bersedia mendengarkan keluh kesah Munsu, sosok yang celakanya tidak asing bagi Choi Donghyun, dan juga Sunhi. 


Konsep dasarnya adalah seorang wanita yang membangkitkan kembali masalah lama bagi tiga pria disekelilingnya, terkesan sederhana dan dangkal, tapi seperti yang ia lakukan di Nobody's Daughter Haewon lagi-lagi Hong Sang-soo berhasil menjadikan penontonnya berpikir bahwa ini tidak akan sesederhana itu, ini akan kompleks, dan ini akan penuh dengan misteri dan kejutan dibalik setting yang lagi-lagi tidak mau bermain rumit dan mengandalkan nada minimalis itu. Dan itu benar, dari judulnya ini memang tampak seperti film yang akan membahas seorang wanita bernama Sunhi, tapi ternyata dibalik itu ada empat dunia yang diberikan kepada kita, empat karakter dengan karakterisasi yang seolah menjadi perwakilan sederhana berbagai tipikal manusia yang ada di dunia ini.

Hal tersebut yang terasa menggelitik bagi saya, dengan terus menerus menekankan isu menggali lebih dalam dengan kaitan terhadap masa depan itu kita punya kisah yang seperti ingin menyentil manusia-manusia jaman sekarang yang tergambarkan dengan efektif oleh tiga karakter pria itu. Masih dengan kamera statis andalannya, penggunaan musik, hingga tidak lupa alcohol yang menjadi pelengkap, Our Sunhi seperti sebuah dunia kecil yang dipenuhi manusia ambisius dan percaya diri dengan topeng diwajah mereka, kekosongan dibalik sikap pura-pura yang berapi-api. Sangat sederhana, itu diputar-putar oleh Hong Sang-soo dengan dominasi dialog sembari terus memegang teguh trik salah paham yang sudah tergambarkan sejak awal itu untuk terus tinggal di pikiran penontonnya, sehingga ketika kita berpindah dari satu karakter menuju karakter lain, dan kita tahu mereka punya keterkaitan, itu bukan hanya mengejutkan namun berhasil memberikan kesan lucu yang menyenangkan. 


Terasa aneh memang, karena meskipun ia tidak sama rumitnya, dan tidak lebih baik, tapi jika dibandingkan dengan Nobody's Daughter Haewon, saya lebih klik dengan karya Hong Sang-soo yang satu ini. Ya mungkin karena tujuan utamanya sendiri dibentuk bersama masalah yang jauh lebih ringan, jauh lebih santai, sehingga tidak memerlukan keterlibatan emosi didalamnya, lebih kepada aksi menertawakan karakter yang tenggelam dalam harapan mereka. Hadir beberapa lelucon tipis yang bekerja dengan cukup baik disini, melodrama yang ia suntikkan juga tidak begitu berat, terus dijaga berada dalam level santai, hal yang menjadikan materi-materi sederhana yang sangat mudah terkesan dangkal itu dapat memberikan lelucon-lelucon yang menarik ketika penonton telah dapat mengikuti irama yang diberikan Hong Sang-soo.

Tapi dengan segala nilai positif diatas tidak menandakan Our Sunhi sebagai kemasan yang memukau. Ini seperti kebalikan dari Nobody's Daughter Haewon, pesan yang ia bawa berhasil tersampaikan dengan tajam yang bahkan sesekali sukses menghadirkan tawa skala besar, tapi disisi lain film ini minim pesona. Mungkin karena fokusnya sendiri dipecah menjadi empat arah, sehingga masing-masing karakter seperti ditarik masuk kedalam cerita dan tampil dengan bekal yang diberikan di awal, tidak di gali jauh lebih dalam. Memang ada nilai positif, misi yang ia bawa tersampaikan dengan baik, tapi dampak negatifnya adalah karakter menjadi kurang kuat, bahkan Sunhi sendiri yang menjadi sosok central seperti kurang bersinar disini, ia memang berhasil menggerakkan cerita, kecerdikan, motivasi, dan hal terkait sense juga tergambarkan dengan baik, tapi seperti tiga karakter pria lainnya, tidak ada yang bersinar. 


Tidak heran ketika film ini berakhir tidak ada kesan yang kuat dari divisi akting, tidak seperti Jeong EunChae di Nobody Daughter Haewon yang memorable itu. Lee Sun-kyun mungkin yang paling mudah mencuri atensi, tapi itu lebih kepada kemampuan pengulangan baris dialog untuk berputar-putar di pikiran penontonnya, diluar itu tidak ada bagian yang kuat dari Lee Sun-kyun. Begitupula dengan Kim Sang-joong dan Jung Jae-young yang seperti tidak mendapatkan timing yang pas untuk membuat karakter mereka standout, dan itu terasa lucu ketika karakter Kim Sang-joong punya waktu yang terhitung cukup besar didalam cerita. Jung Yu-mi mungkin yang paling efektif, dengan posisinya sebagai penghubung antar tiga pria ia mampu menjadikan Sunhi sebagai troublemaker dalam ketenangan yang menarik. 


Overall, Our Sunhi (Uri Seonhui) adalah film yang cukup memuaskan. Seperti memutar apa yang ia lakukan di Nobody Daughter Haewon, disini Hong Sang-soo berhasil memberikan petualangan dangkal yang mampu mengajak penonton untuk menertawakan berbagai masalah terkait kepribadian yang banyak terjadi sekarang ini, dan meskipun tidak punya karakter dengan pesona yang benar-benar kuat, selama 88 menit ini sanggup memberikan petualangan sempit yang dinamis berkat isu-isu yang tampil tajam dibalik cerita yang tetap memilih tampil sederhana itu.






0 komentar :

Post a Comment