15 March 2014

Movie Review: Rough Play (2013)


Apakah anda punya sahabat, rekan, atau keluarga yang berubah dalam hal sikap ketika mereka telah bertemu dengan kesuksesan. Tidak dapat dipungkiri memang hal tersebut akan dengan mudah menghampiri setiap individu, karena dengan sifat manusia yang tak pernah puas menjadikan jalan yang ditemukan memacu obsesi yang jauh lebih besar. Masalahnya hanya satu, mampu atau tidak mereka mengontrol diri agar tidak menjadikan kesuksesan tersebut justru membawa mereka kedalam kehancuran. Rough Play (Baeuneun Baeuda), an obsession and destruction story in Kim Ki-duk style. Just in style.

Oh Young (Lee Joon) sesungguhnya hanya melakukan apa yang menjadi hal wajib dari seorang aktor, menunjukkan kemampuan akting secara total hingga mampu menarik perhatian setiap insan di dunia perfilman. Namun sayangnya dalam hal ini Oh Young sedikit bertindak diluar batas, ambisinya yang begitu besar menjadikan Oh Young kerap kali mengekplorasi karakter yang ia perankan terlalu jauh dari standard yang ditetapkan. Hal tersebut menjadi concern bagi rekan-rekannya, dari aktris yang merasa terganggu, hingga amarah dari sutradara.

Tapi dibalik sisi gelap yang ia miliki, ternyata ada seorang manajer bernama Kim Jang-ho (Seo Beom-seok) yang masih yakin bahwa Oh Young dapat menjadi bintang terkenal. Hal tersebut terbukti dalam waktu singkat, dari sebuah peran kecil Oh Young berubah dari seorang aktor putus asa dengan bakat mentah menjadi selebriti yang sangat terkenal. Namun perubahan nasib itu tidak terjadi pada sikap yang dimiliki oleh Oh Young, menjadikan ego dan sikap sombong yang telah ia punya sejak awal semakin memperbesar tekanan yang perlahan datang menemani hidupnya.


Apakah ini sama dengan Rough Cut yang juga ditulis oleh Kim Ki-duk? Temanya memang sama yaitu dengan menggunakan dunia film sebagai latar utama, namun jika pada Rough Cut cerita masih di isi dengan beberapa adegan aksi yang menyenangkan, Rough Play memiliki sasaran yang sedikit berbeda. Ini lebih terasa seperti observasi pada karakter yang dengan intens terus bermain bersama obsesi miliknya, mengekploitasi sisi lemah dari setiap manusia dalam proses self-destruction yang sempit. Ya, sempit, karena pada dasarnya ini hanyalah sebuah penggambaran dengan cara dan materi yang berbeda dari sebuah topik yang bukan lagi menjadi sesuatu yang baru, self-control.

Rough Play berhasil menarik pada bagian awal, tapi sayangnya tidak berlanjut hingga akhir. Aksi mondar-mandir diawal, kemudian penggambaran mengenai dinamika dari sebuah bisnis entertainment berhasil tergambarkan dengan baik, ada kesan natural yang menyenangkan disini, sisi gelap cerita, kemudian sosok psycho dari karakter utama, bahkan sikap berani yang ia tunjukkan sukses menarik perhatian dan menjadikan penonton menaikkan ekpektasi awal mereka. Masalah utama disini adalah ketimbang memberikan pertumbuhan yang mumpuni baik pada sisi cerita dan juga karakter, Park Hong-Soo justru membawa kisah yang ditulis oleh Kim Ki-Duk dan Jang Hun ini berjalan di level yang sama.

Tentu saja menjadi sesuatu yang sangat positif jika mampu mempertahankan tingkat stabilitas pada sebuah film, jika standard yang ia ciptakan memang sudah tinggi. Rough Play celakanya tidak berada di level yang mumpuni di bagian awal. Tidak berkembang, dialog yang tercipta kerap kali terasa stuck dan canggung, cerita juga terasa kaku dengan alur yang terasa lemah, ditambah dengan karakterisasi dari tokoh juga terasa sangat tipis, dan menjadi semakin aneh ketika dibalik kombinasi dari beberapa kekurangan tadi disisi lain Park Hong-Soo masih terus berupaya untuk menyampaikan point dari bagian gelap setiap manusia dengan menekankan pada sisi kompleksitas konflik utama.

Ini yang cukup menjengkelkan, ketika ia seolah memaksa kita sebagai penonton untuk ikut dalam aliran kisah yang terus menerus berupaya ingin tampak rumit padahal sejak awal tidak membekali kisah ini dengan pondasi yang kuat. Berpindah dari satu scene menuju scene lainnya hanya untuk masuk kedalam ruang yang berisikan aksi show off dari karakter utama dengan penggunaan beberapa aksi kekerasan dan nude scene, ini terasa dingin, datar, fokus yang ia tampilkan tidak kuat, bahkan kerap kali menghadirkan materi yang kurang begitu memiliki peran penting pada misi utama terkait moral dan menjadikan mereka sebagai tumpukan materi yang berupaya mencari jalan keluar.

Bukan menjadi hal yang aneh ketika penonton yang sudah berusaha untuk terjebak dalam kisah gelap ini perlahan juga merasa bingung, karena Rough Play sendiri sejak awal sudah tampak kekurangan rasa percaya diri dalam bergerak. Tambal sulam mungkin lebih tepatnya, secara kasar struktur cerita memang jelas namun mereka tidak terangkai dengan rapi, baik, dan menarik. Ini semakin kacau ketika Lee Joon yang otomatis menjadi andalan utama tidak mampu membangun bahkan mempertahankan daya tarik karakternya yang sesungguhnya cukup mumpuni dibagian awal. Perlahan ia terasa datar, runtuh, baik itu dari segi simpati pada permasalahan yang ia miliki, hingga aksi kekerasan dan kesombongan yang ia tampilkan.


Overall, Rough Play (Baeuneun Baeuda) adalah film yang kurang memuaskan. Potensial tentu saja, namun kombinasi dari berbagai permasalah pada cara premis menarik itu dibangun menjadikan film ini kurang mampu menyampaikan misi yang ia usung dengan powerfull, tidak membosankan memang namun pada akhirnya penonton hanya sebatas mengerti tanpa merasakan feel yang menarik dari isu utama yang ia coba gambarkan. Selalu menjadi hal yang sulit ketika memaksakan berbagai materi yang terasa dingin untuk membentuk kisah yang berisikan sebuah studi karakter.




0 komentar :

Post a Comment