30 October 2013

Movie Review: The Spy: Undercover Operation (2013)


"This is a spy reunion."

Tidak ada sesuatu yang baru dan segar pada kumpulan kisah yang ditawarkan oleh The Spy: Undercover Operation, seperti menyaksikan sebuah paket bertemakan secret agent dengan cita rasa Hollywood yang tetap berkombinasi bersama sentuhan drama khas Korea. Sisi menarik dari film ini justru datang dari kemampuan ia dalam mengubah bahan dan formula paling standard untuk film action dan komedi itu menjadi sebuah hiburan yang jauh dari kesan menjengkelkan, dan tampil cukup memikat.

Chul-Soo (Sol Kyung-Gu), dengan berada dibawah komando rekannya Jin (Ko Chang-Seok) melangkah berani penuh ketenangan masuk ke dalam markas perompak untuk melakukan perundingan dalam upaya membebaskan para tawanan asal Korea. Chul-Soo punya aturan dalam melakukan aksinya, dari kontak mata, mengatur emosi, hingga menggunakan kekerasan. Tampak gagah memang, namun semua itu tidak berlaku ketika Chul-Soo harus berhadapan dengan Young-Hee (Moon So-Ri), istrinya.

Sederhananya ia adalah suami yang takut pada istri, sumber dari keputusan Chul-Soo untuk merahasiakan pekerjaannya dan mengaku bekerja sebagai businessman, yang juga menjadi alasan rasa jengkel Young-Hee karena mereka belum juga memiliki anak. Suatu ketika hadir satu kasus yang berasal dari Korea Utara, berkaitan dengan wanita muda bernama Baek Sul-Hee (Han Ye-Ri), Thailand, nuklir, dan aksi spy antar bangsa. Salah satu dari mereka adalah Ryan (Daniel Henney), pria tampan yang celakanya justru menarik perhatian Young-Hee, dan memecah fokus Chul-Soo pada misi utama, negara atau cinta.


Klasik, standard, predictable, The Spy: Undercover Operation adalah film dengan tipikal dimana anda sebagai penonton sudah tahu ia akan berjalan seperti apa, bahkan bagaimana cara ia akan berakhir. Menggunakan basis dari rasa bosan yang timbul diantara dua karakter utama, Park Soo-Jin dan Yoon Je-Gyun cukup mampu mengkombinasi konsep misunderstanding dengan sensitifitas serta goyahnya rasa percaya, yang kemudian dibentuk oleh Yi Seung-Jun dalam gerak cepat dalam satu jalur lurus, tanpa terlalu banyak menghadirkan basa-basi anda akan merasakan sebuah misi terus di pompa. Menarik, namun stabil.

Ya, stabil, tanpa dinamika cerita yang memikat. The Spy: Undercover Operation adalah film yang sejak awal sudah terjebak akibat tema utama yang ia pilih, sehingga tidak memiliki banyak opsi untuk melakukan kreasi, dan akhirnya memutuskan untuk bermain sangat aman dengan menggunakan materi-materi klasik, namun sayangnya menghadirkan kuantitas berhasil dan gagal yang sama besar. Menggunakan QR code di koran, hingga hal sederhana seperti seorang wanita tua yang mengaku sebagai Yakult Girl, banyak komedi dan lelucon yang mampu membantu mewarnai cerita, penempatan kehadiran mereka yang tidak terkesan dipaksakan, namun sayangnya tidak mampu hadir dalam kualitas yang mumpuni.

Punya konsep yang menarik, layaknya James Bond yang sudah menikah dan kini harus berhadapan dengan musuh dari China, Jepang, hingga CIA, The Spy: Undercover Operation mulai goyah ketika konsep yang pada awalnya berhasil menarik atensi tersebut harus berbagi kontrol di saat intensitas komedi semakin lama semakin terasa kental. Apakah salah ketika Yi Seung-Jun memutuskan untuk sedikit menonjolkan sisi komedi? Tidak, namun hal tersebut memberikan dampak pada cerita utama yang perlahan mulai tidak berkembang, terkesan stuck, dan membawa anda masuk kedalam proses menunggu yang kerap kali terasa membosankan dengan pergerakan cerita yang tidak lagi halus.

Tidak hancur memang, namun di paruh kedua The Spy: Undercover Operation tidak lagi mampu sama menariknya seperti paruh pertama. Dua elemen utama mulai saling menghambat, ketika drama mendapat giliran untuk tampil, selipan humor mulai terasa biasa, begitupula sebaliknya di saat komedi beraksi suntikkan drama juga kurang mampu tampil mumpuni. Belum termasuk didalamnya karakter yang tipis, sehingga bagian melodrama kurang memikat, kurang berhasil menjadikan penonton merasa peduli pada karakter, serta tidak mampu menjadikan konflik personal sebagai sesuatu yang memorable.

The Spy: Undercover Operation mungkin saja dapat tampil jauh lebih baik lagi andai saja Yi Seung-Jun dapat sedikit menahan kontribusi unsur komedi agar tidak terlalu dominan dan menggerus atensi penonton pada cerita utama. Di beberapa bagian saya sempat berada pada posisi dimana hanya menantikan lelucon apa lagi yang akan mereka berikan walaupun tidak semua di eksekusi dengan mumpuni, dan merasa kurang begitu peduli dengan konflik utama yang mengambil cakupan wilayah cukup luas dan berat itu. Ya, hal tersebut juga terjadi pada karakter, semua terasa biasa, hanya Moon So-Ri yang beberapa kali berhasil mencuri perhatian lewat tingkah cerewet dan flustered yang ia tampilkan.   


Overall, The Spy: Undercover Operation adalah film yang cukup memuaskan. Secret agent dengan pertaruhan pada keselamatan dunia, adegan aksi dengan visual effect yang cukup baik, drama ciri khas Korea, dan sentuhan komedi yang klasik. Mereka berdiri sejajar, dan memberikan efek domino ketika salah satu dari mereka gagal dalam menghadirkan eksekusi yang kuat. Jika hanya berdiri sebagai sebuah film komedi dan materi lain sebagai sebuah pemanis, ini akan menarik. Sayangnya Yi Seung-Jun tidak membentuk The Spy: Undercover Operation seperti itu.



0 komentar :

Post a Comment