Movie Review: Red Rocket (2021)

“Life could change on a dime.”

Tebal muka mungkin wajib dimiliki oleh para bintang porno, karena dengan menjadi thick-skinned otomatis mereka akan menjadi tidak peka terhadap kritik atau hinaan sehingga tidak merasa terluka. Karena pekerjaan yang mereka geluti memang pada dasarnya memiliki citra negatif, melakukan perbuatan yang masuk dalam kategori dosa dengan tujuan utama untuk memenuhi fantasi dan hasrat seksual orang-orang yang kemudian “membeli” produk mereka tersebut. Hal terakhir tadi mungkin dapat memicu perdebatan lanjutan, lingkaran bisnis yang berisikan produsen, barang jadi, dan konsumen meski di sisi lain tentu masih banyak pihak yang menolak menjadi bintang porno adalah sebuah pekerjaan. ‘Red Rocket’: the American Dream with sex and naivety.


Blogger Tricks

TV Series Review: Little Women - Part 1

“Nothing in this world is more sacred than money.”

Mendadak kaya merupakan impian banyak orang, begitupula tiga orang wanita muda dalam sebuah keluarga. Kakak beradik yang baru saja mendadak ditinggal pergi oleh Ibu mereka itu awalnya hidup di ambang ekonomi lemah, tidak heran jika ketiganya lesu menjalani hidup. Si sulung menjadi outcast di tempat kerja, adiknya gemar berteman dengan alkohol tiap hari, sementara si bungsu yang gemar melukis merasa terbebani usaha kedua kakaknya agar ia bisa merasakan kebahagiaan, agar ia tidak seperti mereka. Suatu hari si sulung menemukan rejeki nomplok, sebuah tas hiking berukuran besar berisikan uang yang lantas membawa kehidupan mereka ke babak baru. People may lie, but money is honest.


Movie Review: Thirteen Lives (2022)

“Fear is created in our minds.”

Sebuah tim sepakbola beranggotakan 12 orang anak laki-laki berusia 11 hingga 16 tahun bersama dengan asisten pelatih mereka yang berusia 25 tahun memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah gua bernama Tham Luang Nang Non usai sesi latihan mereka. Niatnya untuk bersenang-senang namun celakanya hujan dengan intensitas tinggi membanjiri gua dan menghalangi jalan keluar. Dilaporkan hilang beberapa jam kemudian operasi pencarian dimulai, upaya penyelamatan yang di tahun 2018 lalu itu menjadi sorotan banyak pasang mata selama kurang lebih 18 hari, baik itu dari berita hingga tentu bantuan teknis. Third projects about the rescue operation and after that moving documentary "The Rescue", film ini mencoba menyuntikkan drama tambahan ke dalam peristiwa heroic itu. ‘Thirteen Lives’: a war with water."


Movie Review: Crimes of the Future (2022)

“Surgery is the new sex.”

Berjoget tipis-tipis sendiri di dalam kamar bisa menghasilkan banyak uang mungkin sebuah ide yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang di beberapa dekade lalu, sekalipun kala itu mereka juga punya imajinasi bahwa di masa depan segala sesuatu mungkin akan lebih canggih. Hal yang sama juga kita alami kini, definisi masa depan kelak seperti apa masih tidak pasti walaupun sama seperti orang-orang tadi bahwa kita juga memiliki imajinasi, kini bahkan dengan analisa data jadi semakin mudah bagi beberapa orang untuk diprediksi. Film mengeksplorasi potensi masa depan yang masih jadi misteri, menggunakan premis yang terasa aneh yakni bagaimana jika kelak rasa sakit merupakan cara baru untuk merasakan sensasi bahagia? ‘Crimes of the Future’: a medium rare body horror.


Movie Review: Mrs. Harris Goes to Paris (2022)

“How many chances do you get in your lifetime?”

Gantungkan mimpimu setinggi langit. Ya, kalimat klasik memang dan mungkin akan menimbulkan berbagai makna, tapi hal itu sebenarnya sangat tepat. Memang dalam perjalanan hidup mereka setiap manusia akan bertemu dengan berbagai rintangan yang di sisi lain dapat membuat mimpi yang sudah kadung tinggi digantung tadi jadi sulit untuk diraih. But if you can believe it, you can achieve it, apalagi Sang Pencipta dan semesta yang Ia kuasai selalu punya cara yang kadang datang di luar nalar dan logika untuk menolong atau membantu mereka yang percaya serta tetap berusaha. Di film ini seorang wanita yang berprofesi sebagai pembantu dan akan mengalami pengurangan gaji justru menolak berhenti tuk bermimpi: ia ingin punya sebuah gaun merk Christian Dior! Go wherever your dream takes you. ‘Mrs. Harris Goes to Paris’: a feel-good and uplifting story.


Movie Review: Prey (2022)

"You wanna hunt something that's hunting you?" 

Dahulu jika sebuah film ternyata status tayangnya “dialihkan” ke layanan streaming maka itu dianggap sebuah pertanda buruk, karena akan semakin mudah berasumsi bahwa kualitasnya tidak mumpuni sehingga membuat perusahaan produksi memilih untuk tidak merilisnya di layar lebar. Tapi pandemi tiba dan mengubah banyak hal, salah satunya adalah pamor dari streaming service yang jadi pilihan populer, mereka kemudian berlomba memoles perpustakaan film-nya agar semakin menarik. Dan the Predator franchise jadi salah satu anggota baru, film kelima dari kisah yang diawali oleh Arnold Schwarzenegger di tahun 1987 ini tidak rilis di layar lebar tapi langsung ke streaming service, dan tanpa menggunakan judul Predator! Menariknya, ini justru berhasil jadi salah satu yang terbaik di the Predator franchise. ‘Prey’: shine brightly above simplicity.


Movie Review: Mencuri Raden Saleh (2022)

“Jangan percaya sama orang lain.”

Film tentang pencurian memang memiliki tugas yang tidak mudah, karena fokusnya adalah mengikuti satu kelompok yang merencanakan dan melakukan aksi kejahatan, bukan mengikuti orang-orang yang mencoba menghentikan para penjahat, otomatis akan lebih sulit untuk membangun semacam simpati antara penonton dengan para karakter penjahat. Tapi jika tugas itu berhasil dilaksanakan dengan baik maka film pencurian tersebut justru akan lebih mudah untuk menebar pesonanya, beberapa film seperti ‘The Italian Job’, Ocean's franchise, ‘Now You See Me’, hingga ‘Baby Driver’ bahkan bukan hanya berhasil menghibur saja namun menjadi heist film yang terasa memorable, jika dikemas dengan baik dan tepat. Hal yang berhasil dilakukan oleh film ini, yang dengan percaya diri yang tinggi menyebut aksi mereka sebagai pencurian terbesar abad ini. ‘Mencuri Raden Saleh’: a skillfully executed game. 


Movie Review: Sayap-Sayap Patah (2022)

“Nani sayang aku bikin nasi goreng kesukaanmu. Tunggu aku pulang!”

Mungkin dari poster-nya impresi pertama yang muncul ini adalah sebuah film drama percintaan, saya pun demikian pada awalnya dan kemudian berubah setelah mencoba mencari tahu cerita yang hendak film ini ceritakan. Sinopsisnya memang meninggalkan impresi serupa dengan poster, sepasang suami istri yang telah hidup bahagia, tapi di sisi lain di dalam cerita ada tragedi kerusuhan Mako Brimob tahun 2018, sebuah peristiwa yang berlangsung selama 36 jam saat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh para narapidana terorisme. Seketika impresi awal akan sebuah drama percintaan yang dihasilkan oleh poster tadi tergerus, meskipun sebenarnya tersirat kombinasi hal manis dan pahit dari kehidupan di balik aksi Ariel Tatum yang mencium Nicholas Saputra itu. ‘Sayap-Sayap Patah’: mencoba membuatmu melihat dan ikut merasakan.


Movie Review: 12 Cerita Glen Anggara (2022)

“Yang namanya cinta, ya cinta.”

Manusia tidak bisa hidup sendiri, tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Karena sebagai manusia kita saling membutuhkan satu sama lain, dari tegur sapa sederhana, gotong royong, bersimpati, berempati, serta membantu orang lain. Karena salah satu tujuan hidup manusia bukan hanya bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidupnya namun juga sekitarnya, bukan hanya untuk membuat dirinya sendiri hidup bahagia namun juga untuk menolong orang lain merasakan kebahagiaan. Sesuatu yang terkesan berat memang namun hal tersebut tadi coba dikemas dalam bentuk sebuah drama remaja yang ringan, santai, dan tenang oleh film ini, spin-off dari film ‘Mariposa’ yang rilis dua tahun lalu. ’12 Cerita Glen Anggara’: mencapai target yang tak dipasang tinggi.


TV Series Review: Big Mouth - Part 2

"I will give your enemy into your hands for you to deal with as you wish."

Sepasang suami istri saling mendukung pekerjaan masing-masing, Suami berprofesi sebagai Lawyer dan Istri adalah seorang Nurse, meski jumlah hutang mereka terus bertumbuh setiap menit dan semakin sulit untuk dilunasi karena “koneksi” terbatas sang suami. Lawyer yang dijuluki “big mouth” dengan tingkat kemenangan kurang dari 10% itu suatu hari mendadak mendapat panggilan telepon dari Walikota yang memintanya menjadi “boneka” di persidangan dan menyelidiki kasus pembunuhan yang disinyalir merupakan bagian dari sebuah konspirasi besar para penguasa serta kaum elite yang memiliki hak istimewa, termasuk penjahat terkenal Big Mouse, the king of the underworld and the most genius conman in history.