26 January 2017

Movie Review: The Great Wall [2016]


"I was born into battle."

Sebagai bangunan terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia hingga saat ini Great Wall of China atau Tembok Besar China tentu saja menyimpan banyak cerita di dalamnya baik dari itu yang bersifat mitos hingga fakta. Hal tersebut menjadi sasaran empuk untuk menjadi materi cerita dan di tangan salah satu sutradara kenamaan China, Zhang Yimou, kisah di Great Wall of China itu coba digunakan sebagai materi bagi sebuah monster blockbuster dengan budget super besar dan membuatnya meraih predikat the most expensive film ever shot entirely in China. Hasilnya? 

Pada abad ke 15 dua orang tentara bayaran bernama William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) berupaya mencari black powder yang sedang dicari oleh musuh mereka. Sayangnya suatu ketika bersama anggota grup lainnya mereka diserang oleh sosok yang invisible. Dari sana mereka kemudian “bertemu” dengan  para tentara China yang dipimpin oleh General Shao (Zhang Hanyu). Bersama pasukannya General Shao sedang bersiap menghadapi sebuah major battle namun menariknya musuk mereka bukan para manusia, namun army of monsters.  


Sikap China kini yang tampaknya mencoba untuk “terbuka” di dalam industri perfilman dunia membuat terjadinya kolaborasi antara mereka dengan Amerika ini bukan sesuatu yang terasa aneh. Cepat atau lambat sama seperti ukuran negara mereka yang besar itu China akan menjadi sebuah market yang sangat menggiurkan bagi banyak industri. Tapi hal tersebut untuk saat ini sangat tepat jika kita berbicara tentang uang, tidak dengan bagaimana upaya China berkolaborasi dengan materi cerita di mana mereka tetap berusaha mempertahankan Asian values. Itu bukan sesuatu yang salah tapi sayangnya justru hal utama yang membuat film ini terasa canggung dan kurang nendang, unsur west dan east tidak berhasil dilebur menjadi satu kesatuan yang menarik oleh Zhang Yimou. Pada akhirnya content menjadi terasa quite empty dan film yang punya potensi untuk “menggigit” penontonnya ini jadi terasa kurang memorable. 


The Great Wall sejak awal seperti sudah dibentuk untuk menjadi film yang di sektor cerita bersifat “not to think about” dan di bagian awal Zhang Yimou berhasil membentuk hal tersebut dengan cukup baik. Berangkat dari permainan a la monster blockbuster untuk kemudian bertemu dengan berbagai battle scenes yang spektakuler The Great Wall telah direncanakan untuk menjadi sebuah “kekacauan” visual, and you know they did it quite good. Visual film ini terasa impresif, dari slow motion hingga gerak cepat kesan epic yang menjadi dasar dari materi cerita berhasil ditampilkan dengan baik. Kamu dapat lihat bagaimana budget super besar digunakan dengan cukup oke, dari fighting scenes dan juga elemen action lainnya mereka terasa cukup oke. The action is the highlight, tapi sayangnya sama seperti cerita mereka perlahan menjadi terasa kurang nendang. Penyebabnya? Mereka terasa menghibur and sweetly staged tapi tidak ada depth yang oke dari mereka terutama koneksinya dnegan cerita. 


Hey bukankah tadi dikatakan bahwa ini merupakan film yang “not to think about”? Ya, over the top battles itu terasa oke namun tetap dibutuhkan cerita yang dapat berperan sebagai jangkar yang kokoh agar sebuah film yang menjual action, visual, ledakan, et cetera itu dapat terus terasa seperti sebuah film. Bagaimana dengan film ini? Not super bad tapi dengan budget besar seharusnya konsep menarik yang mencoba menggabungkan action dan fantasy itu dapat dibentuk dengan lebih menarik lagi. Tidak ada kesan “penting” di balik aksi William Garin dan karakter lainnya di sini, dari isu tentang greatness, strength, and courage mereka terasa terpinggirkan oleh bagian action yang mempersilahkan Matt Damon untuk mencoba bergaya a la Legolas itu. Tidak heran perlahan muncul kesan absurd dari cerita yang konsisten terus mengalir dengan datar itu, mereka lebih tertarik mencoba membuat penonton terpukau lewat visual namun sayangnya perlahan terasa monoton karena tidak diwarnai dengan hal lain yang di sini berasal dari cerita. 


Sebagai salah satu film kolaborasi Chinese-American termahal yang pernah diproduksi ‘The Great Wall’ sayangnya tidak sehebat dan semegah nama yang ia punya. Tidak ada core yang kuat di film ini akibat upaya Zhang Yimou fokus pada bagaimana membuat semuanya tampak beautiful dan spektakuler, hal yang berhasil dia capai namun sayangnya juga membuat pedang bermata dua. Visualnya cukup oke, terasa impresif sebelum akhirnya berubah menjadi monoton akibat kuantitas yang terasa gemuk. Hal tersebut muncul akibat tidak adanya penyeimbang atau warna yang dapat membuat petualangan Matt Damon bersama Power Rangers ini menjadi terasa variatif, yaitu karakter dan tentu saja cerita yang at least harus konsisten berada di level oke. Segmented. 












0 komentar :

Post a Comment