03 March 2020

Movie Review: Joker (2019)


“Is it just me, or is it getting crazier out there?”

The Joker itu tidak punya kemampuan manusia super namun psikopat yang dikenal sebagai dalang kriminal tersebut justru menyandang status sebagai one of the greatest villains of all time. Mengapa? He’s so casual but also so bone-chilling, dengan senyum maniak miliknya The Joker adalah sosok yang impenetrable dan tidak bisa ditebak. He just wants to watch the world burn. Gila! Kegilaan dari seorang The Joker tersebut tampil di film ini, sebuah character study yang mencoba memanusiakan psikopat yang sedang menunggu waktu berubah menjadi seorang monster. ‘Joker’ : a crazy delicious psychological thriller. Mental.

Gotham City tahun 1981, Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) tinggal bersama ibunya Penny Fleck (Frances Conroy), sosok yang sakit mental dan fisik serta selalu mengirimkan surat kepada Thomas Wayne, mantan boss-nya. Arthur sendiri yang bekerja sebagai badut pesta juga merupakan sosok yang sakit mental, ia dapat tertawa seram tidak peduli ketika ia sedang bahagia, sedih, maupun marah. Suatu ketika emosi Arthur meledak, semua berawal dari momen ketika ia diserang oleh sekelompok orang ketika sedang bekerja.

Akibat kejadian tersebut Arthur kemudian dihukum oleh boss-nya dan dari sana ia kemudian memutuskan untuk melakukan tindakan kriminal di dalam subway. Aksi tersebut merupakan awal dari aksi besar Arthur selanjutnya. Arthur mencoba peruntungan dengan mewujudkan cita-citanya, menjadi seorang komedian, aksi stand up comedy yang secara mengejutkan dengan cepat menjadi sorotan publik. Arthur bahkan diundang ke Murray's show, sebuah talk show digunakan Arthur untuk "memperkenalkan" dirinya kepada dunia.
Ya, di film ini karakter dari DC Comics yang merupakan comic book villain paling terkenal itu berdiri sendiri. Setting dan sinopsis cerita masih berputar di Gotham City, keluarga Wayne juga masih terlibat dalam kapasitas yang kecil, namun alih-alih berisikan aksi kekacauan dunia yang kemudian diselamatkan oleh superhero di sini penonton dibawa masuk ke dalam sebuah character study. Ini adalah sebuah kisah yang depressing, berisikan tone cerita yang suram dengan keganasan yang, well, terasa ganas. Sutradara dan penulis cerita Todd Phillips mencoba mendorong masuk penonton tidak hanya ke dalam kehidupan Arthur belaka, namun masuk jauh ke dalam pikirannya. Dan itu mengasyikkan.

Di pusat utama yang ia punya ‘Joker’ adalah kisah tentang bagaimana kondisi manusia yang dapat berubah menjadi monster akibat berbagai tekanan dan hal-hal negatif di sekitarnya. Simple memang. Di sini Arthur tidak puas dengan dunia yang eksis dan berada di sekelilingnya, dari bagaimana sikap sang Ibu yang seolah terus terjebak di masa lalunya (hal yang kemudian menjadi bom waktu), sulitnya untuk sukses dan terus ditindas, diasingkan, hingga isu terkait si kaya dan si miskin. Sedari awal kita tahu ia sosok yang “bermasalah” dan dengan cermat Todd Phillips gunakan Joker untuk menjadi sebuah bom waktu yang siap meledak dengan memasukkan berbagai hal “kotor” ke dalam kehidupan Arthur.
Penonton dibawa oleh Todd Phillips menyaksikan kehidupan Arthur yang perlahan semakin memburuk, dari hadirnya berbagai masalah hingga terungkapnya sebuah fakta besar tentang hidupnya. Depresi yang dialami Arthur semakin kelam seraya dengan mood yang ia punya, namun di sisi lain Todd Philips juga menyisipkan perjuangan Arthur untuk berusaha tetap normal. Dua sisi yang bertolak belakang tersebut membuat gejolak emosi dan mental karakter utama kita terasa penuh warna yang kemudian sukses menciptakan garis abu-abu atau batas samar terkait Athur itu sendiri. Dia karakter yang tertindas, mudah untuk menaruh simpati padanya, namun “sudut pandang” yang ia punya jelas bukan sesuatu yang dapat dibenarkan.

Bersama dengan Scott Silver di sini Todd Phillips pada dasarnya “menelanjangi” karakter Arthur atau The Joker di bagian awal. Yang mereka bawa adalah beberapa penggalan origin story dan mitologi dari karakter utama namun di sisi lain tidak mencoba untuk menjejali cerita dengan berbagai comic book dan superhero stuff. Kita bertemu Joker yang sangat “manusia” di sini, yang dia punya hanya pistol, kita kemudian melihat ia bergumul dengan berbagai isi otaknya yang semakin lama semakin gila itu. Todd Phillips mengisi cerita dengan berbagai isu menarik, dari ekonomi dalam cakupan yang luas, kehidupan sosial yang keras, hingga mental health yang berujung pada sebuah kesalahan yang seharusnya dapat dicegah.
Segala sesuatu yang terjadi di sekitar Arthur berjalan ke arah yang salah, ia memberontak, dan berkat kombinasi cantik dari sisi hitam dan putih cerita kehancuran yang Arthur rasakan terasa kumulatif, padat, dan kuat. Menariknya Todd Philips tidak membuat karakter utamanya seperti “mengemis” simpati dari penonton, ia justru menjadikan situasi yang madman tersebut alami sebagai subjek dan objek yang diamati, diperiksa, dan kemudian dimengerti. Tidak heran ketika kebrutalan yang tampil tanpa belas kasihan itu muncul terdapat pertentangan moral yang terasa unik dan asyik, penonton dapat ikut merasakan sebuah “kemenangan” di dalam aksi pembalasan dendam yang notabene sebenarnya sesuatu yang, well, salah.

Hal tersebut hasil dari kemampuan Todd Philips membentuk dunia di mana karakter Joker berada, termasuk di dalamnya karakterisasi serta atmosfir cerita. Gotham City adalah kota yang suram bagi Arthur, terasa kontras dengan tawa hingga makeup dari Nicki Ledermann dan Kay Georgiou yang hadir di wajah Arthur. Ada tekanan, ada kemuraman, ada emosi dan kemarahan yang siap meledak, berbagai macam rasa itu ditangkap lewat cinematography oleh Lawrence Sher dengan sangat baik lalu dibungkus oleh score memikat dari Hildur Guðnadóttir (A Hijacking, Sicario: Day of the Soldado) serta divisi sound. Kostum karya Mark Bridges juga terasa on point, begitupula dengan film editing yang ditangani dengan apik oleh Jeff Groth.
Pencapaian teknis menjadi arena bermain yang digunakan dengan sangat baik oleh Joaquin Phoenix (The Master, Her, The Immigrant, Inherent Vice). Pemeran pendukung tampil sesuai kapasitas yang mereka miliki, seperti Robert De Niro misalnya, mereka menjadi supporter yang baik bagi Joaquin Phoenix. Seperti biasa di sini Phoenix menampilkan performa akting yang sangat berkomitmen, situasi putus asa yang dialami oleh Arthur ia tampilkan dengan sangat baik, dari ekspresi wajah hingga gerak tubuh, ia menghadirkan emosi dan fisik yang “menakutkan” dari Joker di dalam ketenangan. Jiwa gelap dari seorang Joker berhasil Phoenix presentasi dalam method acting yang menawan, sama seperti yang pernah dilakukan oleh mendiang Heath Ledger di ‘The Dark Knight’, di film ini Phoenix sukses membentuk dan menebar aura dari penjahat utama Batman, a psychopath and criminal mastermind yang manic dan menakutkan.
Overall, ‘Joker’ adalah film yang memuaskan. Sebuah film yang sukses tampil “mengganggu”, kisah tentang sebuah pria dalam kondisi psikosis yang perlahan muak dan mencoba “melawan” dunia di sekitarnya, dipimpin oleh kinerja akting yang sangat menawan dari Joaquin Phoenix, supervillain origin story itu dikemas oleh Todd Phillips menjadi sebuah character study yang terasa mengasyikkan untuk dinikmati. Ekplorasi mental health dengan ditemani berbagai real-world problems di dalam cerita, it’s a refreshing approach di genre film superhero, dan tentu saja, sebuah pengalaman menonton film yang akan sangat sulit untuk dilupakan. Mental.











1 comment :

  1. I used to think that my life was a tragedy. But now I realize, it’s a comedy. :)

    ReplyDelete