14 July 2013

[Fiction] Another Love



Sekelompok orang berpakaian serba hitam perlahan mulai melangkah menuju sebuah jalan kecil yang dipenuhi puluhan mobil mewah. Ditengah rintik hujan yang seperti enggan untuk memperbesar kehadirannya, tidak tampak satupun senyuman di antara ekspresi yang mereka tampilkan, wajah pucat yang berpadu dengan kacamata hitam, penuh upaya untuk menghancurkan tekanan dari sebuah rasa sakit yang tampak sangat dalam. Dua pria dewasa menepuk pundak Lucas, pria yang masih belum bisa melepaskan pandangan dari batu nisan di hadapannya.

Dua buah bola mata itu tampak kosong, menjadikan Lucas yang terduduk kaku diatas kursi seperti sebuah boneka tak bernyawa. Masih dengan fokus yang sama sejak upacara pemakaman dimulai, foto Audrey dengan senyuman manisnya, dalam bingkai yang berdiri kokoh diatas makam, wanita yang sangat ia cintai, wanita yang akan menjadi istrinya tepat tiga minggu dari sekarang.
Rasa bersalah menjadi sumber kehancuran utama Lucas, sebuah pertengkaran besar dengan ego yang saling beradu tanpa henti, sebuah tamparan kecil yang membuat Audrey pergi menyusuri dinginnya udara jam dua pagi, yang harus mengakhiri perjalanan hidupnya diatas zebra cross bersama merahnya darah yang tampak bercahaya akibat sorotan dari lampu sebuah mobil yang telah ditinggal kabur pengemudinya.
“Andai saja saat itu aku lebih cepat,” ucap Lucas, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya pada hari itu.
“Maafkan aku,” ucapnya sambil menuju foto Audrey bersama air mata, sebuah kecupan terakhir di kening mantan kekasihnya itu.


--------*--------
Bunyi klakson mobil mulai hadir meskipun sinar mentari belum juga hadir menjalankan tugasnya. Lucas duduk diam diatas kasurnya, bersandar dengan lindungan selimut berwarna merah dengan motif bintang. Sudah satu jam ia tidak melakukan aktifitas apapun, hanya diam dengan pandangan kosong yang mungkin bertolak belakang dengan apa yang sedang terjadi didalam pikirannya. Diraihnya remote tv, mulai mengganti channel dengan random, namun tidak sampai satu menit layar tv sudah kembali hitam. Pandangannya tidak pernah lepas dari handphone yang terbaring diatas meja kecil disebelah tempat tidurnya. Panggilan masuk dari Audrey di pagi hari adalah sebuah rutinitas, hal mustahil yang masih di harapkan terjadi oleh Lucas hari ini.
Menghela nafas panjang, pria yang kini berambut panjang dan berantakan itu bangkit dari kasurnya, menendang sebuah barang yang berada didekat kakinya, menuju jendela yang masih terlindungi tirai biru tua. Lucas mulai asyik mengamati kesibukan yang terjadi di jalan dekat apartemennya, seorang ibu tua yang mulai membuka toko buah miliknya, anak sekolah yang dengan senyum ceria melangkah naik kedalam bus yang berhenti di perempatan jalan disisi lainnya, serta seorang pria dengan topi dan jas hitam yang sedang menikmati kopi hangatnya sembari membaca koran.
“Audrey Wilkinson, lihat mereka, hidup mereka indah. Takdir,” kata Lucas dengan senyuman pahit.
“I miss you. Sudah dua minggu berlalu, beritahu aku dimana kau sekarang berada. Aku ingin berbincang denganmu. Aku ingin tertawa bahagia bersamamu.”
“Aku tidak akan berhenti mencarimu.”

--------*--------
Jaket berwarna hijau tua, topi model baseball hitam yang tampak sangat kontras dengan sebuah headphone berwarna merah yang melingkar diatas kepalanya, bersama dengan tas besarnya Lucas keluar dari subway dan mulai menyusuri jalanan kota yang dipayungi awan kelam kurang bersahabat. Lucas masuk kedalam sebuah mall, menaiki dua buah escalator, dan tiba didepan toko favoritnya, toko music.
Dengan santai Lucas menuju bagian yang memanjang kumpulan music RnB serta Hip-hop. Mulai tampak senyuman di wajahnya, berada di lingkungan yang telah menjadi identitas dari Audrey, yang celakanya menjadikan Lucas lupa dengan tujuan utama ia datang ke toko musik, mencari inspirasi baru untuk lukisannya. Bukannya menemukan semangat yang benar-benar baru, Lucas justru kembali terjebak dalam masa lalunya.
Mata Lucas mulai berubah liar, menyentuh tiap kotak cd dengan penuh rasa penasaran, bergerak bebas yang juga perlahan mulai menarik perhatian penjaga toko yang sedikit terganggu. Gerak bola matanya tersebut tiba-tiba terhenti pada sosok seorang wanita di sudut ruangan di bagian music klasik.
“Audrey?” kata Lucas. Ia kemudian mencoba memejamkan matanya sesaat dan kembali memperhatikan wanita tadi. “Ah, mana mungkin, berhenti berkhayal idiot,” katanya sembari tertawa kecil.
Matanya mungkin berkata tidak, namun pikiran Lucas ternyata berada di arah sebaliknya. Tingkah konyol yang selama dua minggu hilang kembali kedalam jiwa Lucas, ia mulai terus mencuri pandang pada wanita berkulit putih dengan rambut hitam yang panjang dan terawat itu, yang sempat membalas senyumnya ketika mata mereka saling bertemu sebelumnya. Lucas kemudian bergerak cepat ketika wanita itu hendak membayar, mengantri tepat dibelakangnya. Takdir sepertinya sedang membalas kesetiaan Lucas padanya, memberikan kesempatan agar ia dapat berkenalan. Wanita itu hanya membawa kartu kredit, sedangkan alat yang dimiliki toko tersebut sedang rusak.
            “Bagaimana jika saya bayarkan dahulu?” kata Lucas memberikan penawaran.
            “Oh, baiklah,” sahut wanita tersebut dengan senyum manis.
            “Disatukan dengan yang ini mbak,” sahut Lucas kemudian sembari mencoba mengeluarkan dompetnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ketika hendak membayar Lucas melihat senyum dari pegawai kasir yang sepertinya sedari tadi terus menahan tawa melihat tingkahnya.          
            “Ada yang aneh?” tanyanya pada kasir tersebut dengan wajah serius, yang sayangnya tidak merubah sikap penjaga yang masih tersenyum lucu.


--------*--------
Ketika telah berada di depan pintu masuk, wanita tersebut berkata pada Lucas, “Sekarang kau ikut denganku, aku harus mengganti uang milikmu tadi. Kau tahu lokasinya?”
“Baiklah, ikuti aku,” jawab Lucas. Tanpa basa-basi mereka melangkah bersama menuju ATM. Namun tidak seperti biasanya, suasana canggung tercipta, kondisi yang sebelumnya tidak pernah terjadi diantara Lucas dan teman wanitanya, karena kemahiran Lucas dalam mewarnai perbincangan.
            “Aku Lucas Hudson, btw,” katanya sembari menjulurkan tangan.
            “Aby, Abigail Winterburn,” sahut wanita itu sembari menjabat tangan Lucas. “Kau tinggal disekitar sini? Sepertinya kau hafal dengan tata letak mall ini,” tanya Aby.
            “Tidak, aku tinggal di Street 887, harus naik subway untuk sampai kesini,” jawab Lucas.
“Serius? Aku tinggal di Street 681, dua stasiun lebih dekat,” kata Aby. “Apakah kau sering berkunjung kesini?”
            “Lumayan, dulunya. Itu mesin ATM, aku tunggu disini,” sahut Lucas.
Dari kejauhan mata Lucas tidak berhenti memandangi Aby. Dari tampilan fisik ia seperti doppelganger Audrey, tinggi, langsing, dengan wajah sedikit oval.
“Apakah aku sedang bermimpi,” gumamnya, “jika ini mimpi aku ingin segera bangun, ini membingungkan,” katanya dengan nada kecil sembari melihat keluar ruangan melalui jendela, mencoba meyakinkan bahwa ia berada di alam sadar.
“Sebagai tanda terima kasihku,” kata Aby pelan, namun berhasil menjadikan Lucas sedikit tersadar dari khayalannya, “Bagaimana jika kita chit-chat santai sejenak? Kopi mungkin?” tanya Aby dengan senyum manis. “Bagaimana? Hey, ada apa?”, sembari melambaikan telapak tangannya di depan mata Lucas.
“Apa katamu tadi?, tanya Lucas kembali.
“Ini uangmu, dan sekarang kau ikut aku brunch. Boleh? Aku orang baru disini, anggap saja kau sebagai guide dadakan yang sedang menolong gadis manis yang tersesat,” katanya dengan nada imut menggoda.
“Ah, baiklah,” jawab Lucas masih disertai rasa bingung, “aku yang pilih tempatnya.”
           

--------*--------
“Sudah berapa lama kau tinggal disini Luke?” tanya Aby sembari tersenyum kecil.
“Kenapa kau tersenyum? Apa ada yang aneh? Sejak di toko tadi aku merasa ada yang aneh dengan diriku.”
“Luke, Luke, kau tidak sadar aku memanggilmu Luke? Tidak tahu mengapa justru aku sendiri yang merasa lucu dengan nama itu.”
            “Oh, tidak masalah. Luke memang salah satu nickname ku. Asal jangan kau panggil aku Luca,” jawab Lucas.
            “Oke. Oh ya, pertanyaan ku tadi, sudah berapa lama kau tinggal disini?” tanya Aby.
            “Aku bukan penduduk asli kota ini. Aku pindah kesini sejak usia 10 tahun. Jadi kira-kira sudah 15 tahun aku menetap disini.”
            “Berarti aku lebih muda dua tahun darimu,” kata Aby.
            “Wah, berarti umurmu sama dengan…” putus Lucas secara tiba-tiba.
            “Dengan siapa?” tanya Aby.
“Ah, nothing. Aku sendiri lupa mau bicara apa,” sahut Lucas. “Kau sejak kapan tinggal disini?”
“Baru dua minggu, hari ini kalau tidak salah tepat dua minggu aku tinggal disini,” jawabnya. “Orang tua ku ditugaskan kemari.”
“Kau masih tinggal dengan orang tuamu?”tanya Lucas. “Ternyata dugaanku salah,” sambungnya disertai senyum kecil.
“Maksudmu aku sudah menikah? Apakah wajahku setua itu?” tanya Aby sembari memalingkan wajahnya ke kaca jendela.
“Sulit untuk mengatakan wajahmu tidak cantik, makanya aku kaget ketika tahu kau belum menikah,” sahut Lucas sembari tertawa, namun seketika berhenti ketika ia melihat orang yang duduk di meja depan ikut tersenyum melihat tingkah lakunya. Lucas semakin terkejut ketika ia melihat caramel frappuccino milik Aby telah hilang setengah dalam sekejap, dengan sedotan yang sedang asyik diputar-putar oleh Aby.
“Ahh, ternyata kau tidak sedingin yang aku kira,” sahut Aby dengan tersenyum kecil.
“ Ya, ya, dan kau ternyata punya semangat yang besar, sama seperti namamu, membakar musim dingin,” jawab Lucas.
“Membakar musim dingin?” tanya Aby, “Oh, iya benar,” sahutnya lagi sambil tersenyum.
“Oh oh, you’re the clumsy one, Miss Winterburn,” sahut Lucas dengan nada menggoda, yang menjadikan Aby tertunduk malu.
“Kau bekerja? Ah, pertanyaanku, tentu saja kau bekerja, kau bukan ibu rumah tangga,” tanya Lucas.
            “Kau semakin kurang ajar Luke,” sahut Aby sembari tersenyum. “Aku mengambil gelar magister ku, minggu lalu baru mendaftar. Kau? Bapak rumah tangga?” canda Aby.
“Sayangnya dugaanmu betul,” sahut Lucas yang langsung menjadikan Aby terdiam, “Aku punya tujuh orang istri, dan sebelas orang anak. Tim Hudson,” jawab Lucas dengan senyum licik.
“Ha, aku tahu sekarang, kau ahli dalam pertarungan semacam ini,” kata Aby, sembari menganggukkan kepala.
“Aku pelukis, side job ku penyiar radio.”
“Oh, pantas saja kau pandai bermain dengan kata-kata.”
“Apakah kau betah tinggal disini?” tanya Lucas.
“Sejauh ini semua menyenangkan,” jawab Aby singkat.
“Apa hobby mu? Siapa tahu lain waktu kita bisa….” belum tuntas kalimat tersebut, handphone Aby berdering.
“Oh, crap, aku lupa, ternyata aku punya janji siang ini. Sorry Luke aku pergi duluan, gak masalah kan?” tanya Aby sembari membereskan barang-barangnya.
“Jika aku bilang itu masalah, memangnya kau akan tidak jadi pergi?” tanya Lucas dengan wajah serius yang menjadikan Aby berhenti sejenak. “Kidding, pergilah,” sahut Lucas lagi.
“Bye bye, next time ketemuan lagi, oke?” kata Aby sambil berlalu dengan langkah cepat. Dalam lima detik ia sudah sampai di tepi jalan, melambaikan tangan untuk menghentikan taksi. Dengan pandangan terpaku Lucas memperhatikan Aby lewat jendela. Sebuah taksi berhenti, dan Aby membuka pintu, namun sebelum masuk ia berpaling kearah Lucas dan melambaikan tangan disertai senyuman manis dari bibir mungilnya. Taksi perlahan menghilang dari pandangan Lucas.
“There you go, scarf, ketinggalan,” kata Lucas sembari meraih scarf berwarna merah tua itu. “AW? Oh, Aby Winterburn. Haha, khayalanku terlalu tinggi,” gumamnya.


--------*--------
Kembali dengan headphone berwarna merah miliknya, Lucas duduk diam namun kali ini bersanding dengan senyuman dan raut wajah bahagia. Tapi kondisi itu berubah dengan cepat ketika ia sadar akan suatu hal, “Oh my, aku lupa minta nomor handphone Aby. Ah, tolol, bagaimana cara aku menghubunginya? Aisshhhh,” kata Lucas dengan nada penyesalan.
Sebuah lagu ia mainkan dari iPod miliknya, dan mulai memalingkan wajahnya untuk mencari objek menarik dari luar kereta yang melaju dengan kencang. Matanya terhenti pada seorang pria dengan baju serta celana jeans berwarna putih, pria yang ternyata sedari tadi duduk diarah timur laut Lucas, pria yang terus memperhatikan Lucas sembari tersenyum. Lucas membalas senyum pria tersebut, dan mulai mengalihkan perhatian ke handphone miliknya. Alih-alih ingin memutuskan kontak yang awkward tadi, pria tersebut justru berdiri dan duduk disebelah Lucas.
“Kau tidak sedang sakit kan?” tanya pria itu kepada Lucas dengan senyuman kecil.
“Heh, maaf, memangnya kenapa? Sejak tadi pagi saya memang sering melihat orang melihat saya dengan pandangan yang aneh,” jawab Lucas sambil mencoba memeriksa penampilannya di layar iPod.
“Tidak masalah, namun sebaiknya selalu persiapkan dirimu dengan baik sebelum masuk ke ruang publik, jika tidak ingin disebut sakit jiwa,” jawab pria tersebut sambil menepuk pundak Lucas dan beranjak pergi menuju gerbong sebelah.
“What?”




Copyright © 2013 by Rory Pinem
All rights reserved

0 komentar :

Post a Comment